Membenahi kaca mata yang sedikit turun dari tempat bertenggernya.
Belum lama. Baru semalam sedikit memberanikan diri lagi untuk berfikir
mengenai --Apa lagi ya yang harus segera aku selesaikan?-- selain
menulis yang memang menjadi salah satu ritual yang aku suka. Tapi kakak
sekedar menulis saja itu tidak cukup. Dan memulai dari hanya sekedar
menulis itu juga bukan hal yang mudah kakak.
Mungkin sudah basi memang aku menceriterakan ini. Kemarin lusa dan lusa pukul enam pagi tanggal
21 April yang banyak dibingari dengan perayaan Hari Kartini. Tidak
terlalu kencang pagi itu aku mengemudikan sepeda bermesinku. Kembali
menuju kota --The Spirit of Java-- Surakarta. Kartini yang aku jumpai
pagi itu memang tidak pernah menulis surat ataupun buku seperti Raden
Ajeng Kartini. Tetapi tahukah? Yang beliau tuliskan dengan perjuangan
kaki dan tangn dengan nyata bagiku sama berartinya dengan surat-surat
Kartini dalam Habis Gelap Terbitlah Terang.
Hampir saja aku ingin teriak dan --kenapa?-- rasanya bodoh sekali kalau
sampai-sampai saya dan kita sendiri sebagai wanita tidak bisa
mengangkat derajat wanita lain. Masih jam enam, tapi kakinya telah
mengayuh pedal mengantarkan pesanan keset yang dihargai berapa sih
harganya? Masih pukul enam tapi tangan-tangan rapuh beliau sydah
mencetak bata kakak.
"Ibu nyetak bata tiap hari bu?"
"Iya nak, ibu nyetak bata tiap hari"
Taringat dengan caption temanku Wik di akun instagramnya. Bukankah
ketika kita mendaki, dan menikmati puncak, pada akhirnya kaki ini hanya
akan turun lagi? Bukan hanya sekedar bagaimana sukses kita dapatkan,
bukan sekedar bagaimana menikmati udara puncak yng menggairahkan, tetapi
bagaimana kebermanfaatan kita di lereng kakak. Udara puncak memang
menggirahkan, tetapi senyuman masyarakat lebih menjanjikan. Dan ketika
suatu saat kita terbangun di dunia yang sudah lain atmosfernya
--akhirat--. Senyuman-senyuman itulah yang insyaAllah akan membantu kita
menjawab "Untuk apa masa mudamu nak?"
tumpah. kecewa. lukisan. tawa
Minggu, 03 Mei 2015
Rabu, 02 April 2014
Esensi
Ikhlas yang kehilangan
keikhlasanya
Manusia yang kehilangan
kemanusiaanya
Peduli yang kehilangan
kepedulianya
Bukankah sesuatu yang Tuhan
ciptakan dengan berpasangan
ditakdirkan unutk saling
melengkapi?
Seperti kanvas yang bercumbu
dengan kuas
atau mungkin tinta yang memberi
warna
Esensi???
Senin, 03 Maret 2014
Misteri
Misteri
Gelap.
Memang masih gelap. Hanya sinar matahari yang sedikit mengintip. Bahkan suara
kokok ayam yang biasanya membangunkan pun belum terindera telinga. Namun rumah
bu Narsih sudah ramai oleh suara. Suara ibu-ibu yang bergerombol
memperbincangkaan gosip yang beberapa hari ini mengusik warga desa dan
membangkitkan ketakutan terutama ibu muda dan beranak gadis perawan. Hari ini
Wanda, anak bu Narsi dinyatakan sudah tidak perawan setelah diculik dan
kemudian dikembalikan satu malam setelah penculikan. Tri dan Dewi sudah
terlebih dahulu harus mengalami hal yang sama sebelum penculikan itu dialami
Wanda. Mereka bertiga memanglah molek, dengan kulit yang putih dan perawakan
badan bongsor. Terlebih lagi pakaian yang sering merka kenakan tidak sepenuhnya
menutupi struktur badan mereka. Sering ketika sore warga desa melihat mereka
bersepeda atau sekedar berjalan-jalan sore. Entah karena sekedar bersepeda atau
memiliki maksud lain, memamerkan kecantikanya.
Sore
itu seperti biasanya Wanda jalan-jalan sore sendirian. Ia melewati beberapa
jalanan sepi yang dibingkai oleh pemandangan sawah. Banyak pasang mata anak
lelaki yang mengekor dibadanya. Di lapangan sepak bola, sebagian orang pun
begitu. Setibanya di dekat bekas sekolah dasar yang tidak lagi difungsikan. Dari
jauh ia melihat seorang lelaki yang cukup dewasa. Setiap ia jalan-jalan selalu
saja ia melihat lelaki itu. Ia hanya diam dan melajutkan perjalanan yang
sebenarnya tak lagi jauh dengan rumahnya. Baru mulai berjalan melewati
panjangnya bangunan sekolah. Lelaki yang dilihatnya tadi berjalan berlawanan
arah dari lakunya, berjalan kearahnya. Lelaki itu mengeluarkan setangan kain
dari sakunya. Setibanya di dekatnya tiba-tiba bruukkk... ia tak sadarkan diri
lagi—Wanda—
Semakin
larut malam bu Narsi mencari-cari anaknya. Dengan menunggang sepeda motor bu
Narsi berputar putar mengelilingi desa, bahkan hingga desa sebelah, namun tak
didapatinya anaknya. Sesekali ia bertanya pada warga desa yang ditemuinya, dan
hanya melapor bahwa memang anaknya menyusur jalan depan rumahnya tadi. Hingga
matahari semakin tertutup malam dan kemudian hilang. Bu Narsi belum lagi
menjumpai anaknya. Kata orang-orang desa Wanda di culik Gunduruwo karena
jalan-jalan di waktu senja, memang senja adalah waktunya umat setan
bergentayang. Sesaji dan sesepuh desa telah berkumpul di teras rumah bu Narsi.
Upacara pemanggilan ruh dan setan dimulai. Suasana desa menjadi sedikit mistik
ditambah lagihujan erimis yang mengguyuri desa. Lagu-laguan Jawa tak hentinya
didendangkan. Semakin malam pewayangan kecil mulai dilakonkan karena wanda
belumjuga dikembalikan. Hingga semalam suntuk dan pagi menjelang. Beberapa
gerombol orang yang bertugas keliling desa untuk mencari Wanda pun telah
kembali ke rumah bu Narsi. Dengan tangan hampa dan hanya membawa kantung mata
yang tebal menandakan kantuk semalaman. Begitulah Tri dan Dewi dulu juga
mengalami. Meski sesaji dan upacara telah dilaksanakan Tri dan Dewi juga tidak
dikembalikan. Hanya seingat mereka ketika pagi menjelang dan menyilaukan
matanya. Ia berada di sekolah yang tidak difungsikan itu lagi. Di dalam salah
satu ruang pembelajaran. Dengan masih menggunakan pakaian lengkap, meski dari
lakunya orang-orang desa menerawang kalau mereka sudah tidak perawan.
Dan
benar saja. Pagi-pagi ini Wnda pulang. Genderuwo telah memulangkanya. Ia
berjalan sayu menuju rumahnya. Sama seperti Tri dan Dewi, ia juga sudah tidak
perawan. Bu Narsi menangisi. Juga bapaknya. Wanda sendiripun tersedu-sedu. Dan
sejak saat itu para warga desa tak melihat
Wanda jalan-jalan sore lagi untuk beberapa hari. Dan setelah sebulan
kemudian Wanda tak lagi memakai baju yang menampakkan jenjang kaki dan
lenganya. Tak banyak lagi mata lelaki yang meliriknya. Bajunya dinilai lebih
sopan. Dengan kaos-kaos dan rok yang patut sebawah lutut.
Kamis, 20 Februari 2014
Agis Anggelia
“Memang. Memang aku tak pantas. Apa? Menjadi teman mu? Memang
apa yang aku punya? Sejenak menyunggingkan bibir dan sekelebat ekor mata
melirikpun melenggos yang dapat aku tangkap. Hah memang aku butuh kau sebegai
teman. Aku masih memiliki banyak teman yang lain. Lagi pula aku tak sesempurna
kau. Tak pantas memang aku jadi teman mu”
Hanya morfem-morfem berwarna merah yang mau muncul dibenak
Agis. Morfem bengis. Morfem kemarahan. Sekali ia pululkan kepalanya ke kursi
jeep yang sedang ia kendarai. Rautnya tampak kacau. Seperti telah usai pergumulanya
dengan emosinya. Sesekali memang terdengar teriakan yang keluar dari mulutnya.
Ia menangis. Mengigau. Atau entah merancau tak tauhu arah. Kali ini memang ia
tak dapat lagi membendung kekacauanya. Dan kepenatan. Dan kebingungan yang
memang sudah ia tau dari mana asalnya. Tempramen. Agis hanyalah gadis biasa
yang begitu disayangi Tuhan. Gadis kecil yang kacau dengan emosinya.
Ku masuki kamarku. Tak perduli siapapun yang kini menyapaku.
Toh mereka sudah tau bagaimana kekacauanku. Kusatukan daun pintu dengan keras.
Dan kudengar ada yang berteriak menanyakan keadaanku. Apa kalian tak pernah
tau? Mengertilah sedikit. Aku kacau dengan keadaanku. Tak tahukah bingungnya
ketertekanan ini. Hahh? Kalian tidak tau?. Apa pura-pura tidak tahu? Aku sudah
hidup tujuh belas tahun bersama kalian. Tak berguna memang. Aku ada atau tiada
pun tak memiliki sela apalagi beda.
Menjadi gadis tempramental memanglah bukan keinginanya.
Bukan pintanya. Dan kali ini ia hanya menopang tubuhnya dengan sehelai daun
pintu. Ia senderkan. Ia paksa alas kaki yang masih ia kenakan terlempar paksa
dari kakinya. Ia hanya butuh waktu untuk menangis. Merenungi kekacauan ini.
Seperti inilah Agis. Lagi pula siapa yang tak mengenal Agis. Gadis pintar yang
beberapa kali menyeret tropi olimpiade sains ke sekolahnya. Gadis yang cantik
yang tak jarang rautnya ditumbuhi senyum. Tapi siapa yang tahu sisi hitamnya
ini. Gadis cantik yang malang. Ia memang seringkali harus merasakan kekacauan.
Kacau. Seperti saat ini. Memang ia mengaku pernah frustasi. Dan mungkin depresi.
Memang mungkin ia hanya akan terisak. Terguncang bahunya. Merancau. Memaki.
Membuang apa pun yang ingin ia singkirkan. Melempar. Dan kemudian terdiam. Diam
untuk tertidur ataupun menikmati serbuk ganja dan sabu-sabunya atau mungkin
heroin. Memang. Memang hanya itu yang ia rasa yaa.. ia rasa bisa melegakan
sedikit kacaunya. Agis memanglah hanya Agis. Tak pantas pula ia dipersalahkan.
Seperti saat ini. Biarkan melodi emosinya melemah dengan sedikit ganja yang
terbang memasuki langit-langit hidungnya. Biarkan.
***
Matahari segera lerlari ke barat dan kemudian menyembunyikan
wajahnya memberi kesempatan pada rembulan untuk menggantikan peranya. Ruh Agis
telah berganti. Ia kehilangan dirinya yang tempramental. Kembali ia menjadi
gadis yang mempersiapkan diri menuju ujian akhir sekolah. Belajar. Sembari
mendengarkan musik ia lagukan pula jemari tanganya untuk menari di atas
lembaran soal-soal. Bergumam. Mendehem dan tersenyum. Ia kembali menjadi Agis
yang cantik. Kalau memang hanya soal matematika tak sulit memang baginya.
Bukankah ia telah berkali-kali menggondol medali olimpiade. Ia pandangi jam
yang duduk di meja belajarnya. Sudah malam. Ia segera bangkit dan menata rapi
bukunya di dalam ransel. Dan tersenyum. Dengan mudahnya ia lupa akan kacau nya
siang tadi. Lupa dengan perseteruannya dengan temanya. Mungkin sahabat. Dan sembari
berlalu ia memandang lagi frame foto yang berdiri rapi di samping tumpukan
tropinya.
“besok pulang sekolah mau main basket ahh.. aku ajak kak
Rifan hihi” ungkapnya sambil tersenyum.
Ia berjalan mundur dan akhirnya terjatuh dalam mimpi-mimpi
yang menghantarkanya kepada pagi. Kepada aktivitasnya lagi. Sekolah. Ia kembali
ke dunianya. Memasuki gerbang sekolah dengan senyuman yang seperti biasa Agis
suguhkan. Rifan telah menunggu di sisi gerbang. Ia berjanji hari ini akan
menemani Agis bermain basket lagi.
“Haii kak” teriaknya
Ia menyambut senyuman.
“Kak nanti main basket lagi ya”
“Yaa aku lupa bawa baju ganti” jawabnya sambil mengerucutkan bibir
“Ahh kak ga seru deh. Bo’ong kan. Ihh enak aja aku mau diboongin”
“Hhe yuk masuk kelas”
“Haii kak” teriaknya
Ia menyambut senyuman.
“Kak nanti main basket lagi ya”
“Yaa aku lupa bawa baju ganti” jawabnya sambil mengerucutkan bibir
“Ahh kak ga seru deh. Bo’ong kan. Ihh enak aja aku mau diboongin”
“Hhe yuk masuk kelas”
Seperti orang tua dan anak mereka berjalan berdampingan.
Agis yang mungil hampir-hampir badanya tak dapat nampak di belakang Rifan.
Rifan memang telah tau keadaan Agis. Hampir tiga bulan ini ia menjadi psikiater
Agis. Ibu Agis mengizinkan. Ia berharap Rifan dapat menyembuhkan putri
cantiknya dari sifat tempramennya. Tapi ia tak memaksa. Toh itu anugerah Tuhan.
Rifan hanya ingin Agis tak menikmati narkotika lagi. Ia memang tahu. Hanya
kepada Rifan Agis sering bercerita. Tentangnya. Tentang segalanya. Dan Rifan
tak pernah menyesali rasanya. Baginya tanggung jawab nya lah kesembuhan Agis.
Ia berusaha menasehati gadis kecilnya itu. Sikap tempramen Agis lenyap dengan
rasa sayang Rifan untuknya. Untuk kesembuhan Agis.
Waktu sekolah dan tutorial telah lenyap dilalui Agis.
Pertengkaranya dengan sahabatnya telah usai. Dengan kata maaf dan jabatan
tangan mereka bersama lagi. Bercanda ria kembali. Tertawa bersama kembali. Agis
beruntung tentunya hampir sempurna. Tuhan memberinya sahabat yang tau akan
keadaanya. Seperti itulah mungkin gambaran sahabat. Tentang kacau dan tawa
Agis. Tentang emosi dan rasa saling mengasihi. Tak dapat dipisahkan dan
dihelaikan. Antara tempramen dan kasihsayang kecintaan.
Kududukan badanku di tepian lapangan basket. Menunggu Rifan.
Ia keluarkan sebatang coklat dan susu kotak dari tas ranselnya. Juga dua botol
air mineral. Rifan selalu mengingatkanya untuk membawa coklat. Katanya ia akan
lebih merasa nyaman dengan mengigit coklat. Katanya kacaunya akan sedikit
hilang. Agis tau Rifan selalu berusaha untuk melepaskanya dari jerat narkotika.
Ia pun berusaha. Di tengah lamunan Agis ia terkaget dengan sentakan tangan
dibahunya.
“Iih kak,lama deh kak. Udah
terlambat sepuluh menit berarti nanti pemanasanya kak ditambah push up
sepuluh kali. Rifan kalau gak tepat
waktu bagaimana bisa jadi juara?” ungkapnya layak seorang pelatih. Sifat manja
Agis yang semalam hilang telah pulih kembali, merengek dan merajuk seperti Agis
yang Rifan kenal.
“Hhe .. oke siap ibu pelatih”
“Hhe udah aku beliin air kak. Hari ini aku udah makan coklat dong kak” lapornya pada Rifan sambil menyeringai.
“Iih makan sendiri lagi, aku gak dibagi”
“Biarin dong”
“Hhe .. oke siap ibu pelatih”
“Hhe udah aku beliin air kak. Hari ini aku udah makan coklat dong kak” lapornya pada Rifan sambil menyeringai.
“Iih makan sendiri lagi, aku gak dibagi”
“Biarin dong”
Dengan tetap bersendau gurau mereka mulai rutinitasnya. Hampir setiap seminggu tiga kali Agis luangkan waktu untuk Rifan. Entah sekedar untuk menonton pertandinganya atau bermain basket bersama Rifan.
Waktu-waktu ia lalui dengan tawa. Apa yang tak membuat hati
Rifan lega selain tawa Agis. Selain melihat gadis kecilnya itu belajar bermain
basket dan berlagak bisa. Sesekali Rifan harus melepas tawanya melihat gadis
kecilnya itu justru mengejar bola basket yang berlari kesana-kemari karena tak
dapat dikendalikan oleh jemari-jemari kecil Agis. Melihat Agis yang justru
merkata marah dan mencaci bola basket yang idnggap tidak mau nurut denganya.
Haah .. dasar Agis. Ketika sudah melihat Agis mulai sebel dengan bola
basketnya. Ia datang dan menggandeng tanganya. Ia ajak istirahat sebelum
tempramen Agis yang memaksanya istirahat.
“Kok aku nggak
bisa kak huuh” sebal Agis
“Bukan nggak bisa tapi belum bisa cantik. Lagian mana mau bola basketnya sama kamu, orang bola basketnya aja kamu marah-marahin mulu”
“Emang iya kak?” tanya Agis polos
“Bukan nggak bisa tapi belum bisa cantik. Lagian mana mau bola basketnya sama kamu, orang bola basketnya aja kamu marah-marahin mulu”
“Emang iya kak?” tanya Agis polos
Dan dengan santainya Agis merancau kembali meminta maaf pada
bola basket yang ada didepanya. Tak dapat dibendung kembali tawa Rifan.
“Memangnya ada minta maaf sama bola basket hah..”
“Iih tadi kata kamu gitu kan kak iih”
“Iih tadi kata kamu gitu kan kak iih”
Dih ngambek ya. Jelek loh kalo ngambeg cantik
“Biarin..”
“Biarin..”
Begitulah kebersamaan mereka. Dan begitulah Agis yang
melepas emosinya. Dibalik sikap tempramen yang kadang harus ia hadapi, ia
tetaplah gadis kecil yang manja.
Senja telah menyapa. Rifan menunggu Agis hingga pak Sarman,
supir Agis menghampirinya. Dan ia segera melaju dengan waktu menuju rumah
mereka masing-masing. Pulang membawa segudang tawa yang memang terasa berarti
untuk seorang Agis.
Setibanya dirumah Agis melihat ada sesuatu yang berbeda.
Taksi dengan beebrapa koper terparkir di depan rumahnya. Lebih tepatnya
dihalaman rumahnya.
“Apa kak Rizal? Tapi kan kuliahnya ga lagi libur. Lagian masa
dia mau pulang ga kasih kabar adek
nya yang cantik ini mau dibeliin apa hehe” terka Agis
Ia memasuki rumah dan terkejut melihat ayah tercintanya
pulang dari tugasnya. Memang sudah hampir setengah tahun ini ayah Agis bertugas
diluar kota. Hal yang biasa untuk seorang pegawai bea cukai. Ia segera menubruk
dan memeluk ayahnya. Meski ayah Agis tegas dan terkadang cenderung keras akan
tetapi ia tetap ayah yang selalu Agis rindukan.
“Ayah sudah pulang, Agis rindu yah,ayah nggak ada kak Rizal
juga nggak ada, cuman tinggal Agis sama ibu yah” ucap Agis meluapkan
kerinduanya. Tapi ayah Agis hanya menyambutnya dengan senyuman dan pelukan.
Elusan pada rambut Agis yang panjang sebahu.
“Agis kok bauk?” goda ayah Agis
“Agis habis main basket sama kak Rizal yah, ya Ayah cantik-cantik gini dibilang bau yah”
“Ayah beliin agis apa yah?”
“Ayah beliin Agis coklat banyak sayang”
“Agis kok bauk?” goda ayah Agis
“Agis habis main basket sama kak Rizal yah, ya Ayah cantik-cantik gini dibilang bau yah”
“Ayah beliin agis apa yah?”
“Ayah beliin Agis coklat banyak sayang”
Begitulah suara mereka semakin melemah dari ruang tamu. Dan
membumbung lagi di ruang keluarga. Ibu Agis menampakkan senyumnya dari dapur
sembari menenteng beberapa cangkir teh dan kue. Sisa hari dilewati dengan
cerita. Agis yang bercerita tentang olimpiade nya. Tentang basketnya bersama
Rifan. Dan tentang semuanya. Hingga matahari mengundurkan diri melihat mereka
bercengkrama.
Hari tentunya semakin gelap. Jarum jam menunjukkan pukul
delapan malam. Ruang keluarga menjadi tempat kembali mereka. Saling
bercengkrama dan bercanda. Ayah Agis memulai pembicaraan. Mengingat dua bulan
lagi ujian ayah Agis bertanya mengenai perguruan tinggi. Agis yang selama SMA
memiliki potensi akademik yang tinggi Ayah Agis berharap Agis memilih bidang
matematika dan sains sebagai tempat lanjutan studi Agis. Tapi bertolak belakang
dengan keinginan Agis, ia ingin memasuki dunia seni dan desain. Ia anggap
goresan tangan lah yang terkadang mampu mewakilkan perasaanya. Menyampaikan
kacau Agis. Perbedaan pendapat yang berujung pada perdebatan. Emosional. Dan
kacau tempramen Agis. Ayah Agis yang berharap Agis seperti kakaknya tak ingin
kalah dalam adu gagasan ini. Ayah Agis tak mau mengerti dengan kacau yang sulit
agis kendalikan. Dengan kacau yang sering menyeret Agis menikmati narkotika.
Apa ayah tidak tahu? Aku sudah tujuh belas tahun hidup
bersama kalian. Benci benci... bencii.
Aku masuki kamar dan kulempar daun pintu kuat-kuat. Aku
terdiam dan kali ini diam. Aku ingat nasehat kak Rifan. Aku nggak boleh
menikmatinya lagi. Narkoba. Aku bisa kendalikan emosi aku. Aku bisa. Kali ini
mungkin aku tak akan merepotkan mereka lagi. Ahh apa gunanya aku. Aku hanya
akan meminta pada ayah untuk pendidikanku dan aku pasti bisa membuktikan. Aku
mau ikut kak Rizal. Dan mungkin menghentikan hubungan ku dengan kak Rifan. Yaa
aku memang sayang tapi ah .. biarkan dia mengejar bintangnya juga. Tak mungkin
kan aku mau manja terus denganya. Aku hanya akan mengirimnya pesan singkat.
Mungkin sudah cukup. Ahh tak perlu cengeng. Aku pasti bisa.
Hari-hari terus berlalu. Detik
menjelma menjadi menit dan menggulinggal jam dan menaiki hari menjadi
minggu-minggu dan bulan. Dan satu bulan. Dan dua bulan. Dan hingga kini aku
telah sampai di Paris tempat ku belajar desain. Selama disini aku belum pernah
memang sekalipun menghubungi kak Rifan. Walaupun mungkin jika dijumlahkan akan
tercetak ratusan pesan dan panggilan masuk darinya. Kurasa telah cukup aku
membebaninya. Biarlah. Tuhan pasti akan memberikan yang terbaik untuknya. Gadis
cantik yang akan menemaninya bermain basket lagi. Pasti. Memang tak mudah untuk
meninggalkan lamunan yang bermuara pada sosoknya. Dan disini. Dari sudut jendela
apartemen ini lampu-lampu yang akan menjadi saksi. Rindunya aku untuknya.
Berkali-kali memang aku berusaha
menghubunginya. Sulit. Memang sulit. Agis ada apa denganmu. Apakah kau kembali
menikmati jerat narkotika lagi. Bagaimana keadaanmu. Masih adakah batangan coklat dan susu seperti yang dulu lagi. Lalu
aku memang berjalan lemas ke rumahnya. Hanya ibunya yang selalu menyambutku
dengan senyuman. Dan dari beliaulah aku tahusegalanya. Tentangnya. Kutanyakan
nomor ponselnya. Dan selama Agis menghubungi beliau masih lah dia menggunakan
nomor-nomor yang dulu. Aku pilih psikologi ini sebagai jalan studi ku agar aku
selalu engkau berada di sekelilingku gadisku. Agar tak ada lagi gadis-gadis
yang harus menahan kacau sepertimu. Agar tak ada lagi yang harus berperang
dengan emosi. Dengan dirinya sendiri. Dengan tempramen jiwa yang kadang tak
dapat diduga. Salam rinduku Agis Anggelia. Agis Anggelia. Yaa Agis Anggelia.
Sedah hampir enam bulan aku
menikmati hariku. Dengan warna-warna. Musik. Goresan dan kerinduan. Akhir musim
dingin ini aku ingin menikmati sup buatan ibu lagi. Mungkin aku akan pergi ke
taman kota. Dibawah pohon di tepi sungai seperti dulu aku menikmatinya. Atau
bermain basket lagi. Atau hanya sekedar mengintip lapangan bola besar yang dulu
sering aku langkahi. Kusambut dengan uluran tangan bunyi ponsel yang berdering.
Kak Rifan. Masih saja ia menanti kabarku.
Agis
Bagaimana senyumu.
Masihkah kau selalu membiarkanya ada diraut manismu.
Atau justru kini kau pelit untuk berbagi.
Segera pulang lah. Aku rindu. Rindu
Psikologi kini menjadi pilihanku.
Khusus untukmu. Agar aku tak temui gadis yang harus kacau sepertimu lagi.
Hehe
Ingat hanya susu coklat dan batanganya ya yang boleh kau nikmati.
Apa kau inginkan aku mengirim untukmu.
Rinduku Rifan.
Bagaimana senyumu.
Masihkah kau selalu membiarkanya ada diraut manismu.
Atau justru kini kau pelit untuk berbagi.
Segera pulang lah. Aku rindu. Rindu
Psikologi kini menjadi pilihanku.
Khusus untukmu. Agar aku tak temui gadis yang harus kacau sepertimu lagi.
Hehe
Ingat hanya susu coklat dan batanganya ya yang boleh kau nikmati.
Apa kau inginkan aku mengirim untukmu.
Rinduku Rifan.
“Kak. Aku telah lepas dari pelukan
kelam narkotika. Terimakasih untuk segalanya darimu. Semoga masih ada banyak
masa untuk kita bercerita kembali. Agis Anggraeni.”
Hahh ku fokuskan kembali pandangku
untuk pesawat yang akan segera membawaku kembali ke tanah ku lahir. Kurasa
cukup untuk ku memberi cerita pada kak
Rifan. Cukup untuknya tahu keadaanku. Kutanya pada Arka memang benar kak Rifan
memilih jalanya untuk psikologi. Betapa bahagianya ketika aku masih bersamanya
mungkin. Tapi kenapa aku baru menyesali. Baru menyadari bahkan. Yaa memang tak
berguna. Ahh.. biarlah aku beristirahat. Atau sekedar memejamkan mata. Dan
biarkan ku nikmati penerbangan ku kali ini. Untuk pulang. Memberikan senyuman
dan mempersiapkan pameran yang akan menyombongkan desain dan imaji ku. kuharap
ayah akan cukup memberikan senyumnya untuk pencapaian ku kali ini.
Dan lelap kali ini yang menemani
Agis. Membawanya perjalanan terbangnya ini untuk jauh lebih terbang lagi.
Menyebrangi mimpi dan mimpi. Dan mimpi hingga kini ia harus terbangun dengan
kesibukanya mengurus pameran desain ciptaanya. Konsep hall dan wardrob
modelnya. Memang belum terlalu besar. Tapi cukup dan bahkan lebih untuk gadis
seukuran Agis. Disela kesibukan dan senyum puasnya ia ingin menjenguk lapanan
bola basket samping sekolah dulu. Diantar taksi ia berjalan perlahan
menyeberangi gerbang. Melewati koridor dan kemudian telah tampak secuil sudut
lapangan bola besar itu. Senyum yang ia suguhkan. Sembari menyilakan tangan di
dadanya. Ia berjalan perlahan. Terdengar suara yang tak asing baginya. Kak
Rifan. Dengan jelas ia mampu mengenalinya. Tapi siapa lagi gadis itu. Yang
sedang bermain basket denganya. dengan bola basket yang telalu besar pula untuk
seukuran gadis itu. Sepertinya dulu. Sesal lalu aku menjawab pesanya.
“Tak ada lagi aku dalamnya. Bahkan
aku. Mungkin untukbayangku pun tak lagiada. Biarlah. Hah terimakasih untuk
semuanya. Ku kira kau tak akan tinggalkan luka kak. Tapi yaa memang ini
salahku. Aku yang meninggalkanmu. Ya memang salaku” sambil lalu dan tersenyum
Agis tinggalkan atmosfer itu. Ia kembali pada pameranya lagi. Dengan kesibukan
yang ia harap akan mampu menghilangkan ingatnya tentang apa yang baru saja ia
indera. Dan mungkin jika memang masih ada aku didalamnya. Akan aku tunggu
hadirmu dalam pameranku kak. Aku tunggu.
Rifan menelan info dari Arka. Agis
akan menggelar pameran busana karya nya. Apalagi yang harus ia tunggu. Mungkin
telah ada lelaki lain yang akan menyerahkan rangkaian bunga indah untuk Agis.
Bukan aku. Bukan aku lagi. Sayangnya pameran itu diadakan pukul sepuluh malam.
Sedangkan aku masih memiliki klien dan tanggung jawab pasien. Tak apa semoga
masih ada sisa watktu untuknya untukku. Hanya segera kuraih batangan coklat dan
susu kotak untuknya. Mungkin orang akan memandangnya rendah. Hanya susu dan coklat.
Bukanlah rangkaian indah bunga. Dan hari ini bukan valentine. Memang. Agislah
yang paling tahu. Kuparkirkan mobil di tempat yang kuterka masih cukup sisa.
Berlari menuju hall dan ternyata semua telah tiada. Telah usai pagelaran yang
ada. Hanya beberapa petugas yang memegang ganggang pel dan sapu untuk merapikan
hall ini kembali. Memang jarum jam telah menunjukkan puluk dua belas malam. Dan
mungkin beberapa jam lagi matahari telah akan menggantikan rembulan dan lampu
malam. Hanya kutitipkan susu dan coklat pada rekan Agis. Assistant yang
membantu pagelaranya. Tak mampu mataku mengindera rupanya. Memang sedikit
kecewa. Tapi dengan susu ini setidaknya Agis tau aku masih mencarinya.
Menunggu. Dan mengharapkanya.
“Tolong katakan dariku. Rifan
Aditya. Terimakasih”
Kulangkahkan kaki keluar dari
kamar mandi. Mencuci muka yang sedari tadi dihinggapi riasan memang sedikit
membuat sel terasa segar kembali. Susu dan coklat. Siapa yang mengirimnya
untukku. Hanya kak Rifan yang tahu tentang susu coklat dan batanganya. Siapa
lagi? Ia berusaha mencari kartu ucapan namun tak ada. Hanya sekotak kecil susu
coklat dan batanganya. Seperti yang sering Rifan bawakan dulu untuknya.
“Vira... Vira tahu siapa pengirim
susu dan coklat dimeja?”
“katanya Rifan Aditya Gis.. kamu kenal? Temanmu?”
“katanya Rifan Aditya Gis.. kamu kenal? Temanmu?”
Memang benar kak Rifan masih
mencarinya. Lalu siapa gadis yang kemarin memainkan bola besar basket
bersamanya. Jika dia gadisnya untuk apa lagi ia mencarinya lagi sekarang?
Sebelum benaknya semakin bingung lagi. Segera ia simpan susu dan batangan
coklat ke dalam tas nya. dan kemudian mengucapkan terimakasih dan tersenyum dan
pulang untuk memejamkan mata.
Sepagi-pagi sekali Agis berjalan
dari koridor rumah sakit. Bahkan matahari masih remang-remang menyinari wajah
cantiknya. Sebelum ia pulang kembali ke dunia desainya. Paris. Ia ingin
pastikan bahwa memang benar-benar ia telah terlepas dari narkotika. Di rumah
sakit yang selama ini merawatnya. Ia ketuk pintu dan kemudian masuk. Namun
dengan segera ia terhenti melihat dokter yang kali ini menanganinya. Berbeda.
Sungguh berbeda. Meski dokter yang mendudukan badanya dikursi masih saja belum
menengok ke arahnya. Tapi ia yakin kak Rifan yang kali ini dihadapinya.
“Agis”
“Kak”
“Kau sakit? Kau butuh perawatan? Ada apa? Aku mencarimu selama ini”
“Akuhanya ingin memastikan aku benar-benar bebas dari narkotika kak”
“Duduklah aku ingin banyak berbincang. Tantang kita. Ya tentang kau dan aku”
“Kak”
“Kau sakit? Kau butuh perawatan? Ada apa? Aku mencarimu selama ini”
“Akuhanya ingin memastikan aku benar-benar bebas dari narkotika kak”
“Duduklah aku ingin banyak berbincang. Tantang kita. Ya tentang kau dan aku”
Agis duduk dan mengikuti perintah
Rifan. Kecanggungan memang tak dapat disembunyikan. Telah lama mereka tak
bersua sedekat ini. Bahkan bersua. Kabar pun tak ada. Rifan bercerita panjang
lebar dan berkata bahwa hingga kini ia memang masih menunggu nya. Mencari tahu
tentang keadaanya. Hingga ia berharap semua dapat utuh seperti yang dahulu
lagi. Rifan yang menguasai kedaan hingga Agis memberanikan diri untuk bertanya
tentang gadis itu. Gadis yang ia lihat bermain bola besar bersamanya ketika
itu. Dan dengan santainya Rifan menjawab sambil berlagak tertawa.
“Dia saudara sepupuku. Jadi kamu
tahu. Jadi kamu cemburu hingga kamu nggak mau balas sama angkat telepon ku.
Hahaha” ungkapnya sambil tertawa.
“Iih ngeledekin aku. Kak juga masih mencariku kan?”
“Jadi bisakah sekarang kita mulai kembali seperti yang dulu sayang?”
“Apa kau masih mencintaiku seperti yang dulu kak?”
“Tentu. Aku selalu berusaha menghubungimu dan hanya sekali kau balas pesanku. Dan aku bertanya kepada ibu mengenai keadaanmu hinga pada akhirnya aku mendapat kabar mengenai pameranmu dari Arka. Arka yang memberi tahu. Akan tetapi ketika aku datang berkunjung telah usai semuanya. Dan aku hanya menitipkan susu coklat dan batanganya”
“Kau tau seuanya kak?”
“Tentu” jawab Rifan sambil tersenyum padanya.
“Iih ngeledekin aku. Kak juga masih mencariku kan?”
“Jadi bisakah sekarang kita mulai kembali seperti yang dulu sayang?”
“Apa kau masih mencintaiku seperti yang dulu kak?”
“Tentu. Aku selalu berusaha menghubungimu dan hanya sekali kau balas pesanku. Dan aku bertanya kepada ibu mengenai keadaanmu hinga pada akhirnya aku mendapat kabar mengenai pameranmu dari Arka. Arka yang memberi tahu. Akan tetapi ketika aku datang berkunjung telah usai semuanya. Dan aku hanya menitipkan susu coklat dan batanganya”
“Kau tau seuanya kak?”
“Tentu” jawab Rifan sambil tersenyum padanya.
Dan kali ini mungkin mereka
berkata lebih jauh lagi. Dan seperti inilah akhir dari perjalanan Agis. Seperti
kekuatan lilin yang berusaha menerangi meski sulit. Rifan berusaha menjadi yang
terbaik kembali untuk gadisnya. Seperti kecintaan yang ia harap agar tak pernah
padam. Seperti rasa sayang yang ia inginkan agar gadisnya sembuh dari
tempramentalnya. Hanya senyuman yang mungkin akan dapat mengisyaratkan. Tentang
mereka dan perjalananya yang begitu lama. Dan senyuman itu akhirnya tersungging
dari keduanya. Agis dan Rifan. Dan mereka telah berjanji untuk memulai kembali.
Dan mungkin akan bermain basket lagi. Dan mungkin besok atau lusa Agis yang
akan membuatkan susu coklat panas untuk Rifan. Untuk lelaki yang benar-benar
mencintainya. Ahh cinta bahkan aku tak tahu apa itu cinta. Hanya sekedar
senyuman yang aku tahu hanya orang-orang tertentu yang dapat merasakanya.
Tamat
Selasa, 24 Desember 2013
Kecewa
Kecewa
Kaki ku masih kusilakan. Masih saja memandang barisan aksara
yang berjejer rapi menjadi wacana. Punggung ku pun masih kusenderkan di tembok
sudut koridor. Di dekat bak sampah di bawah lampu neon yang sedikit menerangi
suramnya koridor ini. Dan yang jelas masih
kunikmati siomay hangat sembari mendengarkan nyanyian hujan yang sedari tadi
ajeg dijatuhkan Tuhan. Entah memang. Entah kenapa beberapa hari ini orang-orang
yang dulu membuatku merasa bangga karena ada kini justru membuatku kecewa.
Kecewa dengan statement, lontaran, pesimis, sikap haah sifat khas remaja, yaa
seperti menyodorkan harapan di awal pertemuan saja, dan selanjutnya ya seperti
ini, acuh, tak peduli atau bahkan mungkin benci. Dan mungkin memenag hanya mata
yang sayu dan beratnya hembusan nafas yang tahu. Hhuhfhh.
Sesekali ku obrak-abrik halaman bukuku. Mencari ruang-ruang
yang pas untuk kubaca sambil berharap dapat mengembalikan mood-ku. Aku memang sempat bersyukur atau mungkin lebih tepatnya
bangga pernah mengenal sosoknya. Dengan sholihnya, seperti tak ada alasan lagi
untuk para wanita menghindar dari hipnotisnya. Memang dulu seperti aku
diingatkan. Aku yang awul-awulan dan brutal sedikit bisa berkenalan dengan
Tuhan. Namun pada kenyataanya itu memang hanya dulu, memang hanya dua atau tiga
kali bertemu saja. Dan selanjutnya yaa seperti ini, merasa di acuhkan atau
memang tak dianggap. Biasalah pria, mungkin lebih mudah berjalan, menari, dan
berlari dari satu ruh wanita ke wanita lainya.
Dan dia yang kedua, dengan multitalent yang dimilikinya. Pun
sama. Apasih sandang yang tak melekat di pelipisnya, intelek. kritis. aktiv.
Bahkan semua seperti milikinya. Seperti hanya dengan kedipan mata pun ia mampu
menciptakan hal-hal yang kuanggap luar biasa untuk seukuranku. Tapi ya hanya
untuk beberapa masa saja memang. Dan berakhir sama. Ya sama. Berlalu dengan
sendirinya. Merasa seperti terlalu bodoh dan dengan mudah nya di
ombang-ambingkan perasaan sendiri. Walaupun memang dia sempat mengecas
semangatku untuk beberapa waktu.
Dan dia dan dia dan dia dan dia yang lain pun sama. Ahh..
mulai bosan dengan zat yang di beri nama kecewa. Bahkan pria, teman wanita ku
pun sama. Berjalan menuju angan dan keegoisanya masing-masing. Dan mungkin
tanpa sengaja mulai menampakkan keorisinilan pribadinya setelah sekian masa
bersama. Mungkin memang teori S. Takdir Alisjahbana mulai menjelma menjadi
nyata. Teori yang pernah menjadi Polemik pada
masanya “materialisme, intelektualisme, egoisme, dan individualisme”. Yaa
mungkin seperti itulah lebih tepatnya. Walau aku tak tau apa motif perbuatan
mereka hingga menghasilkan kata kecewa. Dan mungkin untukku kali ini sulit
untuk di cas kembali. Atau mungkin hanya sekedar mengembalikan image nya di
mataku pun sulit baginya. Walaupun memang tak boleh melihat seseorang dari kaca
mata kekecewaan. Yang sama saja aku egois pula. Dan apa bedanya aku dengan
mereka? Akan tak ada.
Hingga hujan reda pun aku masih bersila. Hanya saja siomay
yang kubiarkan saja kini telah hilang kehangatanya. Kubujuk ruh ku untuk
kembali lagi berada di dunia nyata. Meski sedikit banyak lega, tetap saja rasa
itu ada. Iya rasa itu. Apalagi kalau bukan kecewa. Mungkin kecewa ada karna aku
pun juga mengecewakan mereka. Dan lebih bodohnya lagi karna justru aku
menyalahkan mereka. Dan entah kenapa aku tak ingin disalahkan atau berada di
posisi yang mengecewakan. Dan akan ku usahakan untuk pura-pura tak tahu
mengenai hal ini.
Kurapatkan kembali bukuku. Kuhembuskan lagi nafas beratku.
Kepala ini seperti pohon mangga yang terlalu banyak buah yang menggelayutinya.
Berat. Hanya mampu kusandarkan dan lagi-lagi kusandarkan di tembok sudut
koridor sisi tempat sampah. Kecewa. Memang kata yang hanya terdiri dari lima
fonem yang berbeda ini, kini telah mampu membujuk ruh ku untuk menyusupi kata
itu sendiri. Yaa.. mungkin memang aku harus berjalan di bawah sejuknya bekas
hujan lagi. Dan hanya untuk sekedar mengingatakan bahwa kau pun juga
mengecewakan.
Dan yaaa.. memang atau mungkin aku hanya terlalu menikmati
saja perjalananku. Entah lah yang pasti memang hingga saat ini aku sendiri pun
harus menyembunyikan kekecewaanku. Dan aku menikmati kok. Toh hujan masih terus
saja menemani. Yang jelas senyuman yang katanya ibarat mantra konyol penuh arti
ini lah yang berhasil mengalahkan rumus kekecewaan. Yaa.. senyuman. S e n y u m a n.
Karangganyar di ujung usia 2013
Langganan:
Komentar (Atom)

