Minggu, 03 Mei 2015

Kartini Masa Kini?

Membenahi kaca mata yang sedikit turun dari tempat bertenggernya. Belum lama. Baru semalam sedikit memberanikan diri lagi untuk berfikir mengenai --Apa lagi ya yang harus segera aku selesaikan?-- selain menulis yang memang menjadi salah satu ritual yang aku suka. Tapi kakak sekedar menulis saja itu tidak cukup. Dan memulai dari hanya sekedar menulis itu juga bukan hal yang mudah kakak.

Mungkin sudah basi memang aku menceriterakan ini. Kemarin lusa dan lusa pukul enam pagi tanggal 21 April yang banyak dibingari dengan perayaan Hari Kartini. Tidak terlalu kencang pagi itu aku mengemudikan sepeda bermesinku. Kembali menuju kota --The Spirit of Java-- Surakarta. Kartini yang aku jumpai pagi itu memang tidak pernah menulis surat ataupun buku seperti Raden Ajeng Kartini. Tetapi tahukah? Yang beliau tuliskan dengan perjuangan kaki dan tangn dengan nyata bagiku sama berartinya dengan surat-surat Kartini dalam Habis Gelap Terbitlah Terang.

Hampir saja aku ingin teriak dan --kenapa?-- rasanya bodoh sekali kalau sampai-sampai saya dan kita sendiri sebagai wanita tidak bisa mengangkat derajat wanita lain. Masih jam enam, tapi kakinya telah mengayuh pedal mengantarkan pesanan keset yang dihargai berapa sih harganya? Masih pukul enam tapi tangan-tangan rapuh beliau sydah mencetak bata kakak.

"Ibu nyetak bata tiap hari bu?"

"Iya nak, ibu nyetak bata tiap hari"


Taringat dengan caption temanku Wik di akun instagramnya. Bukankah ketika kita mendaki, dan menikmati puncak, pada akhirnya kaki ini hanya akan turun lagi? Bukan hanya sekedar bagaimana sukses kita dapatkan, bukan sekedar bagaimana menikmati udara puncak yng menggairahkan, tetapi bagaimana kebermanfaatan kita di lereng kakak. Udara puncak memang menggirahkan, tetapi senyuman masyarakat lebih menjanjikan. Dan ketika suatu saat kita terbangun di dunia yang sudah lain atmosfernya --akhirat--. Senyuman-senyuman itulah yang insyaAllah akan membantu kita menjawab "Untuk apa masa mudamu nak?"

Rabu, 02 April 2014

Esensi


Ikhlas yang kehilangan keikhlasanya
Manusia yang kehilangan kemanusiaanya
Peduli yang kehilangan kepedulianya

Bukankah sesuatu yang Tuhan ciptakan dengan berpasangan
ditakdirkan unutk saling melengkapi?
Seperti kanvas yang bercumbu dengan kuas
atau mungkin tinta yang memberi warna

Esensi???

Senin, 03 Maret 2014

Misteri


Misteri

Gelap. Memang masih gelap. Hanya sinar matahari yang sedikit mengintip. Bahkan suara kokok ayam yang biasanya membangunkan pun belum terindera telinga. Namun rumah bu Narsih sudah ramai oleh suara. Suara ibu-ibu yang bergerombol memperbincangkaan gosip yang beberapa hari ini mengusik warga desa dan membangkitkan ketakutan terutama ibu muda dan beranak gadis perawan. Hari ini Wanda, anak bu Narsi dinyatakan sudah tidak perawan setelah diculik dan kemudian dikembalikan satu malam setelah penculikan. Tri dan Dewi sudah terlebih dahulu harus mengalami hal yang sama sebelum penculikan itu dialami Wanda. Mereka bertiga memanglah molek, dengan kulit yang putih dan perawakan badan bongsor. Terlebih lagi pakaian yang sering merka kenakan tidak sepenuhnya menutupi struktur badan mereka. Sering ketika sore warga desa melihat mereka bersepeda atau sekedar berjalan-jalan sore. Entah karena sekedar bersepeda atau memiliki maksud lain, memamerkan kecantikanya. 

Sore itu seperti biasanya Wanda jalan-jalan sore sendirian. Ia melewati beberapa jalanan sepi yang dibingkai oleh pemandangan sawah. Banyak pasang mata anak lelaki yang mengekor dibadanya. Di lapangan sepak bola, sebagian orang pun begitu. Setibanya di dekat bekas sekolah dasar yang tidak lagi difungsikan. Dari jauh ia melihat seorang lelaki yang cukup dewasa. Setiap ia jalan-jalan selalu saja ia melihat lelaki itu. Ia hanya diam dan melajutkan perjalanan yang sebenarnya tak lagi jauh dengan rumahnya. Baru mulai berjalan melewati panjangnya bangunan sekolah. Lelaki yang dilihatnya tadi berjalan berlawanan arah dari lakunya, berjalan kearahnya. Lelaki itu mengeluarkan setangan kain dari sakunya. Setibanya di dekatnya tiba-tiba bruukkk... ia tak sadarkan diri lagi—Wanda—

Semakin larut malam bu Narsi mencari-cari anaknya. Dengan menunggang sepeda motor bu Narsi berputar putar mengelilingi desa, bahkan hingga desa sebelah, namun tak didapatinya anaknya. Sesekali ia bertanya pada warga desa yang ditemuinya, dan hanya melapor bahwa memang anaknya menyusur jalan depan rumahnya tadi. Hingga matahari semakin tertutup malam dan kemudian hilang. Bu Narsi belum lagi menjumpai anaknya. Kata orang-orang desa Wanda di culik Gunduruwo karena jalan-jalan di waktu senja, memang senja adalah waktunya umat setan bergentayang. Sesaji dan sesepuh desa telah berkumpul di teras rumah bu Narsi. Upacara pemanggilan ruh dan setan dimulai. Suasana desa menjadi sedikit mistik ditambah lagihujan erimis yang mengguyuri desa. Lagu-laguan Jawa tak hentinya didendangkan. Semakin malam pewayangan kecil mulai dilakonkan karena wanda belumjuga dikembalikan. Hingga semalam suntuk dan pagi menjelang. Beberapa gerombol orang yang bertugas keliling desa untuk mencari Wanda pun telah kembali ke rumah bu Narsi. Dengan tangan hampa dan hanya membawa kantung mata yang tebal menandakan kantuk semalaman. Begitulah Tri dan Dewi dulu juga mengalami. Meski sesaji dan upacara telah dilaksanakan Tri dan Dewi juga tidak dikembalikan. Hanya seingat mereka ketika pagi menjelang dan menyilaukan matanya. Ia berada di sekolah yang tidak difungsikan itu lagi. Di dalam salah satu ruang pembelajaran. Dengan masih menggunakan pakaian lengkap, meski dari lakunya orang-orang desa menerawang kalau mereka sudah tidak perawan.

Dan benar saja. Pagi-pagi ini Wnda pulang. Genderuwo telah memulangkanya. Ia berjalan sayu menuju rumahnya. Sama seperti Tri dan Dewi, ia juga sudah tidak perawan. Bu Narsi menangisi. Juga bapaknya. Wanda sendiripun tersedu-sedu. Dan sejak saat itu para warga desa tak melihat  Wanda jalan-jalan sore lagi untuk beberapa hari. Dan setelah sebulan kemudian Wanda tak lagi memakai baju yang menampakkan jenjang kaki dan lenganya. Tak banyak lagi mata lelaki yang meliriknya. Bajunya dinilai lebih sopan. Dengan kaos-kaos dan rok yang patut sebawah lutut.

Kamis, 20 Februari 2014

Agis Anggelia


“Memang. Memang aku tak pantas. Apa? Menjadi teman mu? Memang apa yang aku punya? Sejenak menyunggingkan bibir dan sekelebat ekor mata melirikpun melenggos yang dapat aku tangkap. Hah memang aku butuh kau sebegai teman. Aku masih memiliki banyak teman yang lain. Lagi pula aku tak sesempurna kau. Tak pantas memang aku jadi teman mu”

Hanya morfem-morfem berwarna merah yang mau muncul dibenak Agis. Morfem bengis. Morfem kemarahan. Sekali ia pululkan kepalanya ke kursi jeep yang sedang ia kendarai. Rautnya tampak kacau. Seperti telah usai pergumulanya dengan emosinya. Sesekali memang terdengar teriakan yang keluar dari mulutnya. Ia menangis. Mengigau. Atau entah merancau tak tauhu arah. Kali ini memang ia tak dapat lagi membendung kekacauanya. Dan kepenatan. Dan kebingungan yang memang sudah ia tau dari mana asalnya. Tempramen. Agis hanyalah gadis biasa yang begitu disayangi Tuhan. Gadis kecil yang kacau dengan emosinya.

Ku masuki kamarku. Tak perduli siapapun yang kini menyapaku. Toh mereka sudah tau bagaimana kekacauanku. Kusatukan daun pintu dengan keras. Dan kudengar ada yang berteriak menanyakan keadaanku. Apa kalian tak pernah tau? Mengertilah sedikit. Aku kacau dengan keadaanku. Tak tahukah bingungnya ketertekanan ini. Hahh? Kalian tidak tau?. Apa pura-pura tidak tahu? Aku sudah hidup tujuh belas tahun bersama kalian. Tak berguna memang. Aku ada atau tiada pun tak memiliki sela apalagi beda.
Menjadi gadis tempramental memanglah bukan keinginanya. Bukan pintanya. Dan kali ini ia hanya menopang tubuhnya dengan sehelai daun pintu. Ia senderkan. Ia paksa alas kaki yang masih ia kenakan terlempar paksa dari kakinya. Ia hanya butuh waktu untuk menangis. Merenungi kekacauan ini. Seperti inilah Agis. Lagi pula siapa yang tak mengenal Agis. Gadis pintar yang beberapa kali menyeret tropi olimpiade sains ke sekolahnya. Gadis yang cantik yang tak jarang rautnya ditumbuhi senyum. Tapi siapa yang tahu sisi hitamnya ini. Gadis cantik yang malang. Ia memang seringkali harus merasakan kekacauan. Kacau. Seperti saat ini. Memang ia mengaku pernah frustasi. Dan mungkin depresi. Memang mungkin ia hanya akan terisak. Terguncang bahunya. Merancau. Memaki. Membuang apa pun yang ingin ia singkirkan. Melempar. Dan kemudian terdiam. Diam untuk tertidur ataupun menikmati serbuk ganja dan sabu-sabunya atau mungkin heroin. Memang. Memang hanya itu yang ia rasa yaa.. ia rasa bisa melegakan sedikit kacaunya. Agis memanglah hanya Agis. Tak pantas pula ia dipersalahkan. Seperti saat ini. Biarkan melodi emosinya melemah dengan sedikit ganja yang terbang memasuki langit-langit hidungnya. Biarkan.
***
Matahari segera lerlari ke barat dan kemudian menyembunyikan wajahnya memberi kesempatan pada rembulan untuk menggantikan peranya. Ruh Agis telah berganti. Ia kehilangan dirinya yang tempramental. Kembali ia menjadi gadis yang mempersiapkan diri menuju ujian akhir sekolah. Belajar. Sembari mendengarkan musik ia lagukan pula jemari tanganya untuk menari di atas lembaran soal-soal. Bergumam. Mendehem dan tersenyum. Ia kembali menjadi Agis yang cantik. Kalau memang hanya soal matematika tak sulit memang baginya. Bukankah ia telah berkali-kali menggondol medali olimpiade. Ia pandangi jam yang duduk di meja belajarnya. Sudah malam. Ia segera bangkit dan menata rapi bukunya di dalam ransel. Dan tersenyum. Dengan mudahnya ia lupa akan kacau nya siang tadi. Lupa dengan perseteruannya dengan temanya. Mungkin sahabat. Dan sembari berlalu ia memandang lagi frame foto yang berdiri rapi di samping tumpukan tropinya. 

“besok pulang sekolah mau main basket ahh.. aku ajak kak Rifan hihi” ungkapnya sambil tersenyum.
Ia berjalan mundur dan akhirnya terjatuh dalam mimpi-mimpi yang menghantarkanya kepada pagi. Kepada aktivitasnya lagi. Sekolah. Ia kembali ke dunianya. Memasuki gerbang sekolah dengan senyuman yang seperti biasa Agis suguhkan. Rifan telah menunggu di sisi gerbang. Ia berjanji hari ini akan menemani Agis bermain basket lagi.

“Haii kak” teriaknya
Ia menyambut senyuman.
“Kak nanti main basket lagi ya”
“Yaa aku lupa bawa baju ganti” jawabnya sambil mengerucutkan bibir
“Ahh kak ga seru deh. Bo’ong kan. Ihh enak aja aku mau diboongin
“Hhe yuk masuk kelas”

Seperti orang tua dan anak mereka berjalan berdampingan. Agis yang mungil hampir-hampir badanya tak dapat nampak di belakang Rifan. Rifan memang telah tau keadaan Agis. Hampir tiga bulan ini ia menjadi psikiater Agis. Ibu Agis mengizinkan. Ia berharap Rifan dapat menyembuhkan putri cantiknya dari sifat tempramennya. Tapi ia tak memaksa. Toh itu anugerah Tuhan. Rifan hanya ingin Agis tak menikmati narkotika lagi. Ia memang tahu. Hanya kepada Rifan Agis sering bercerita. Tentangnya. Tentang segalanya. Dan Rifan tak pernah menyesali rasanya. Baginya tanggung jawab nya lah kesembuhan Agis. Ia berusaha menasehati gadis kecilnya itu. Sikap tempramen Agis lenyap dengan rasa sayang Rifan untuknya. Untuk kesembuhan Agis.

Waktu sekolah dan tutorial telah lenyap dilalui Agis. Pertengkaranya dengan sahabatnya telah usai. Dengan kata maaf dan jabatan tangan mereka bersama lagi. Bercanda ria kembali. Tertawa bersama kembali. Agis beruntung tentunya hampir sempurna. Tuhan memberinya sahabat yang tau akan keadaanya. Seperti itulah mungkin gambaran sahabat. Tentang kacau dan tawa Agis. Tentang emosi dan rasa saling mengasihi. Tak dapat dipisahkan dan dihelaikan. Antara tempramen dan kasihsayang kecintaan.

Kududukan badanku di tepian lapangan basket. Menunggu Rifan. Ia keluarkan sebatang coklat dan susu kotak dari tas ranselnya. Juga dua botol air mineral. Rifan selalu mengingatkanya untuk membawa coklat. Katanya ia akan lebih merasa nyaman dengan mengigit coklat. Katanya kacaunya akan sedikit hilang. Agis tau Rifan selalu berusaha untuk melepaskanya dari jerat narkotika. Ia pun berusaha. Di tengah lamunan Agis ia terkaget dengan sentakan tangan dibahunya. 

“Iih kak,lama deh kak. Udah terlambat sepuluh menit berarti nanti pemanasanya kak ditambah push up sepuluh kali. Rifan kalau gak tepat waktu bagaimana bisa jadi juara?” ungkapnya layak seorang pelatih. Sifat manja Agis yang semalam hilang telah pulih kembali, merengek dan merajuk seperti Agis yang Rifan kenal.
“Hhe .. oke siap ibu pelatih”
“Hhe udah aku beliin air kak. Hari ini aku udah makan coklat dong kak” lapornya pada Rifan sambil menyeringai.
“Iih makan sendiri lagi, aku gak dibagi”
“Biarin dong”

Dengan tetap bersendau gurau mereka mulai rutinitasnya. Hampir setiap seminggu tiga kali Agis luangkan waktu untuk Rifan. Entah sekedar untuk menonton pertandinganya atau bermain basket bersama Rifan.
Waktu-waktu ia lalui dengan tawa. Apa yang tak membuat hati Rifan lega selain tawa Agis. Selain melihat gadis kecilnya itu belajar bermain basket dan berlagak bisa. Sesekali Rifan harus melepas tawanya melihat gadis kecilnya itu justru mengejar bola basket yang berlari kesana-kemari karena tak dapat dikendalikan oleh jemari-jemari kecil Agis. Melihat Agis yang justru merkata marah dan mencaci bola basket yang idnggap tidak mau nurut denganya. Haah .. dasar Agis. Ketika sudah melihat Agis mulai sebel dengan bola basketnya. Ia datang dan menggandeng tanganya. Ia ajak istirahat sebelum tempramen Agis yang memaksanya istirahat. 

“Kok aku nggak bisa kak huuh” sebal Agis
“Bukan nggak bisa tapi belum bisa cantik. Lagian mana mau bola basketnya sama kamu, orang bola basketnya aja kamu marah-marahin mulu”
“Emang iya kak?” tanya Agis polos
Dan dengan santainya Agis merancau kembali meminta maaf pada bola basket yang ada didepanya. Tak dapat dibendung kembali tawa Rifan.
“Memangnya ada minta maaf sama bola basket hah..”
“Iih tadi kata kamu gitu kan kak iih”
Dih ngambek ya. Jelek loh kalo ngambeg cantik
“Biarin..”

Begitulah kebersamaan mereka. Dan begitulah Agis yang melepas emosinya. Dibalik sikap tempramen yang kadang harus ia hadapi, ia tetaplah gadis kecil yang manja.
Senja telah menyapa. Rifan menunggu Agis hingga pak Sarman, supir Agis menghampirinya. Dan ia segera melaju dengan waktu menuju rumah mereka masing-masing. Pulang membawa segudang tawa yang memang terasa berarti untuk seorang Agis.

Setibanya dirumah Agis melihat ada sesuatu yang berbeda. Taksi dengan beebrapa koper terparkir di depan rumahnya. Lebih tepatnya dihalaman rumahnya.
“Apa kak Rizal? Tapi kan kuliahnya ga lagi libur. Lagian masa dia mau pulang ga kasih kabar adek nya yang cantik ini mau dibeliin apa hehe” terka Agis
Ia memasuki rumah dan terkejut melihat ayah tercintanya pulang dari tugasnya. Memang sudah hampir setengah tahun ini ayah Agis bertugas diluar kota. Hal yang biasa untuk seorang pegawai bea cukai. Ia segera menubruk dan memeluk ayahnya. Meski ayah Agis tegas dan terkadang cenderung keras akan tetapi ia tetap ayah yang selalu Agis rindukan.

“Ayah sudah pulang, Agis rindu yah,ayah nggak ada kak Rizal juga nggak ada, cuman tinggal Agis sama ibu yah” ucap Agis meluapkan kerinduanya. Tapi ayah Agis hanya menyambutnya dengan senyuman dan pelukan. Elusan pada rambut Agis yang panjang sebahu.
“Agis kok bauk?” goda ayah Agis
“Agis habis main basket sama kak Rizal yah, ya Ayah cantik-cantik gini dibilang bau yah”
“Ayah beliin agis apa yah?”
“Ayah beliin Agis coklat banyak sayang”

Begitulah suara mereka semakin melemah dari ruang tamu. Dan membumbung lagi di ruang keluarga. Ibu Agis menampakkan senyumnya dari dapur sembari menenteng beberapa cangkir teh dan kue. Sisa hari dilewati dengan cerita. Agis yang bercerita tentang olimpiade nya. Tentang basketnya bersama Rifan. Dan tentang semuanya. Hingga matahari mengundurkan diri melihat mereka bercengkrama.

Hari tentunya semakin gelap. Jarum jam menunjukkan pukul delapan malam. Ruang keluarga menjadi tempat kembali mereka. Saling bercengkrama dan bercanda. Ayah Agis memulai pembicaraan. Mengingat dua bulan lagi ujian ayah Agis bertanya mengenai perguruan tinggi. Agis yang selama SMA memiliki potensi akademik yang tinggi Ayah Agis berharap Agis memilih bidang matematika dan sains sebagai tempat lanjutan studi Agis. Tapi bertolak belakang dengan keinginan Agis, ia ingin memasuki dunia seni dan desain. Ia anggap goresan tangan lah yang terkadang mampu mewakilkan perasaanya. Menyampaikan kacau Agis. Perbedaan pendapat yang berujung pada perdebatan. Emosional. Dan kacau tempramen Agis. Ayah Agis yang berharap Agis seperti kakaknya tak ingin kalah dalam adu gagasan ini. Ayah Agis tak mau mengerti dengan kacau yang sulit agis kendalikan. Dengan kacau yang sering menyeret Agis menikmati narkotika. 

Apa ayah tidak tahu? Aku sudah tujuh belas tahun hidup bersama kalian. Benci benci... bencii. 

Aku masuki kamar dan kulempar daun pintu kuat-kuat. Aku terdiam dan kali ini diam. Aku ingat nasehat kak Rifan. Aku nggak boleh menikmatinya lagi. Narkoba. Aku bisa kendalikan emosi aku. Aku bisa. Kali ini mungkin aku tak akan merepotkan mereka lagi. Ahh apa gunanya aku. Aku hanya akan meminta pada ayah untuk pendidikanku dan aku pasti bisa membuktikan. Aku mau ikut kak Rizal. Dan mungkin menghentikan hubungan ku dengan kak Rifan. Yaa aku memang sayang tapi ah .. biarkan dia mengejar bintangnya juga. Tak mungkin kan aku mau manja terus denganya. Aku hanya akan mengirimnya pesan singkat. Mungkin sudah cukup. Ahh tak perlu cengeng. Aku pasti bisa.

Hari-hari terus berlalu. Detik menjelma menjadi menit dan menggulinggal jam dan menaiki hari menjadi minggu-minggu dan bulan. Dan satu bulan. Dan dua bulan. Dan hingga kini aku telah sampai di Paris tempat ku belajar desain. Selama disini aku belum pernah memang sekalipun menghubungi kak Rifan. Walaupun mungkin jika dijumlahkan akan tercetak ratusan pesan dan panggilan masuk darinya. Kurasa telah cukup aku membebaninya. Biarlah. Tuhan pasti akan memberikan yang terbaik untuknya. Gadis cantik yang akan menemaninya bermain basket lagi. Pasti. Memang tak mudah untuk meninggalkan lamunan yang bermuara pada sosoknya. Dan disini. Dari sudut jendela apartemen ini lampu-lampu yang akan menjadi saksi. Rindunya aku untuknya.

Berkali-kali memang aku berusaha menghubunginya. Sulit. Memang sulit. Agis ada apa denganmu. Apakah kau kembali menikmati jerat narkotika lagi. Bagaimana keadaanmu. Masih adakah batangan  coklat dan susu seperti yang dulu lagi. Lalu aku memang berjalan lemas ke rumahnya. Hanya ibunya yang selalu menyambutku dengan senyuman. Dan dari beliaulah aku tahusegalanya. Tentangnya. Kutanyakan nomor ponselnya. Dan selama Agis menghubungi beliau masih lah dia menggunakan nomor-nomor yang dulu. Aku pilih psikologi ini sebagai jalan studi ku agar aku selalu engkau berada di sekelilingku gadisku. Agar tak ada lagi gadis-gadis yang harus menahan kacau sepertimu. Agar tak ada lagi yang harus berperang dengan emosi. Dengan dirinya sendiri. Dengan tempramen jiwa yang kadang tak dapat diduga. Salam rinduku Agis Anggelia. Agis Anggelia. Yaa Agis Anggelia.

Sedah hampir enam bulan aku menikmati hariku. Dengan warna-warna. Musik. Goresan dan kerinduan. Akhir musim dingin ini aku ingin menikmati sup buatan ibu lagi. Mungkin aku akan pergi ke taman kota. Dibawah pohon di tepi sungai seperti dulu aku menikmatinya. Atau bermain basket lagi. Atau hanya sekedar mengintip lapangan bola besar yang dulu sering aku langkahi. Kusambut dengan uluran tangan bunyi ponsel yang berdering. Kak Rifan. Masih saja ia menanti kabarku.
Agis
Bagaimana senyumu.
Masihkah kau selalu membiarkanya ada diraut manismu.
Atau justru kini kau pelit untuk berbagi.
Segera pulang lah. Aku rindu. Rindu
Psikologi kini menjadi pilihanku.
Khusus untukmu. Agar aku tak temui gadis yang harus kacau sepertimu lagi.
Hehe
Ingat hanya susu coklat dan batanganya ya yang boleh kau nikmati.
Apa kau inginkan aku mengirim untukmu.
Rinduku Rifan.

“Kak. Aku telah lepas dari pelukan kelam narkotika. Terimakasih untuk segalanya darimu. Semoga masih ada banyak masa untuk kita bercerita kembali. Agis Anggraeni.”

Hahh ku fokuskan kembali pandangku untuk pesawat yang akan segera membawaku kembali ke tanah ku lahir. Kurasa cukup untuk ku memberi  cerita pada kak Rifan. Cukup untuknya tahu keadaanku. Kutanya pada Arka memang benar kak Rifan memilih jalanya untuk psikologi. Betapa bahagianya ketika aku masih bersamanya mungkin. Tapi kenapa aku baru menyesali. Baru menyadari bahkan. Yaa memang tak berguna. Ahh.. biarlah aku beristirahat. Atau sekedar memejamkan mata. Dan biarkan ku nikmati penerbangan ku kali ini. Untuk pulang. Memberikan senyuman dan mempersiapkan pameran yang akan menyombongkan desain dan imaji ku. kuharap ayah akan cukup memberikan senyumnya untuk pencapaian ku kali ini. 

Dan lelap kali ini yang menemani Agis. Membawanya perjalanan terbangnya ini untuk jauh lebih terbang lagi. Menyebrangi mimpi dan mimpi. Dan mimpi hingga kini ia harus terbangun dengan kesibukanya mengurus pameran desain ciptaanya. Konsep hall dan wardrob modelnya. Memang belum terlalu besar. Tapi cukup dan bahkan lebih untuk gadis seukuran Agis. Disela kesibukan dan senyum puasnya ia ingin menjenguk lapanan bola basket samping sekolah dulu. Diantar taksi ia berjalan perlahan menyeberangi gerbang. Melewati koridor dan kemudian telah tampak secuil sudut lapangan bola besar itu. Senyum yang ia suguhkan. Sembari menyilakan tangan di dadanya. Ia berjalan perlahan. Terdengar suara yang tak asing baginya. Kak Rifan. Dengan jelas ia mampu mengenalinya. Tapi siapa lagi gadis itu. Yang sedang bermain basket denganya. dengan bola basket yang telalu besar pula untuk seukuran gadis itu. Sepertinya dulu. Sesal lalu aku menjawab pesanya. 

“Tak ada lagi aku dalamnya. Bahkan aku. Mungkin untukbayangku pun tak lagiada. Biarlah. Hah terimakasih untuk semuanya. Ku kira kau tak akan tinggalkan luka kak. Tapi yaa memang ini salahku. Aku yang meninggalkanmu. Ya memang salaku” sambil lalu dan tersenyum Agis tinggalkan atmosfer itu. Ia kembali pada pameranya lagi. Dengan kesibukan yang ia harap akan mampu menghilangkan ingatnya tentang apa yang baru saja ia indera. Dan mungkin jika memang masih ada aku didalamnya. Akan aku tunggu hadirmu dalam pameranku kak. Aku tunggu.

Rifan menelan info dari Arka. Agis akan menggelar pameran busana karya nya. Apalagi yang harus ia tunggu. Mungkin telah ada lelaki lain yang akan menyerahkan rangkaian bunga indah untuk Agis. Bukan aku. Bukan aku lagi. Sayangnya pameran itu diadakan pukul sepuluh malam. Sedangkan aku masih memiliki klien dan tanggung jawab pasien. Tak apa semoga masih ada sisa watktu untuknya untukku. Hanya segera kuraih batangan coklat dan susu kotak untuknya. Mungkin orang akan memandangnya rendah. Hanya susu dan coklat. Bukanlah rangkaian indah bunga. Dan hari ini bukan valentine. Memang. Agislah yang paling tahu. Kuparkirkan mobil di tempat yang kuterka masih cukup sisa. Berlari menuju hall dan ternyata semua telah tiada. Telah usai pagelaran yang ada. Hanya beberapa petugas yang memegang ganggang pel dan sapu untuk merapikan hall ini kembali. Memang jarum jam telah menunjukkan puluk dua belas malam. Dan mungkin beberapa jam lagi matahari telah akan menggantikan rembulan dan lampu malam. Hanya kutitipkan susu dan coklat pada rekan Agis. Assistant yang membantu pagelaranya. Tak mampu mataku mengindera rupanya. Memang sedikit kecewa. Tapi dengan susu ini setidaknya Agis tau aku masih mencarinya. Menunggu. Dan mengharapkanya.

“Tolong katakan dariku. Rifan Aditya. Terimakasih”

Kulangkahkan kaki keluar dari kamar mandi. Mencuci muka yang sedari tadi dihinggapi riasan memang sedikit membuat sel terasa segar kembali. Susu dan coklat. Siapa yang mengirimnya untukku. Hanya kak Rifan yang tahu tentang susu coklat dan batanganya. Siapa lagi? Ia berusaha mencari kartu ucapan namun tak ada. Hanya sekotak kecil susu coklat dan batanganya. Seperti yang sering Rifan bawakan dulu untuknya.

“Vira... Vira tahu siapa pengirim susu dan coklat dimeja?”
“katanya Rifan Aditya Gis.. kamu kenal? Temanmu?”

Memang benar kak Rifan masih mencarinya. Lalu siapa gadis yang kemarin memainkan bola besar basket bersamanya. Jika dia gadisnya untuk apa lagi ia mencarinya lagi sekarang? Sebelum benaknya semakin bingung lagi. Segera ia simpan susu dan batangan coklat ke dalam tas nya. dan kemudian mengucapkan terimakasih dan tersenyum dan pulang untuk memejamkan mata.

Sepagi-pagi sekali Agis berjalan dari koridor rumah sakit. Bahkan matahari masih remang-remang menyinari wajah cantiknya. Sebelum ia pulang kembali ke dunia desainya. Paris. Ia ingin pastikan bahwa memang benar-benar ia telah terlepas dari narkotika. Di rumah sakit yang selama ini merawatnya. Ia ketuk pintu dan kemudian masuk. Namun dengan segera ia terhenti melihat dokter yang kali ini menanganinya. Berbeda. Sungguh berbeda. Meski dokter yang mendudukan badanya dikursi masih saja belum menengok ke arahnya. Tapi ia yakin kak Rifan yang kali ini dihadapinya. 

“Agis”
“Kak”
“Kau sakit? Kau butuh perawatan? Ada apa? Aku mencarimu selama ini”
“Akuhanya ingin memastikan aku benar-benar bebas dari narkotika kak”
“Duduklah aku ingin banyak berbincang. Tantang kita. Ya tentang kau dan aku”

Agis duduk dan mengikuti perintah Rifan. Kecanggungan memang tak dapat disembunyikan. Telah lama mereka tak bersua sedekat ini. Bahkan bersua. Kabar pun tak ada. Rifan bercerita panjang lebar dan berkata bahwa hingga kini ia memang masih menunggu nya. Mencari tahu tentang keadaanya. Hingga ia berharap semua dapat utuh seperti yang dahulu lagi. Rifan yang menguasai kedaan hingga Agis memberanikan diri untuk bertanya tentang gadis itu. Gadis yang ia lihat bermain bola besar bersamanya ketika itu. Dan dengan santainya Rifan menjawab sambil berlagak tertawa. 

“Dia saudara sepupuku. Jadi kamu tahu. Jadi kamu cemburu hingga kamu nggak mau balas sama angkat telepon ku. Hahaha” ungkapnya sambil tertawa.
“Iih ngeledekin aku. Kak juga masih mencariku kan?”
“Jadi bisakah sekarang kita mulai kembali seperti yang dulu sayang?”
“Apa kau masih mencintaiku seperti yang dulu kak?”
“Tentu. Aku selalu berusaha menghubungimu dan hanya sekali kau balas pesanku. Dan aku bertanya kepada ibu mengenai keadaanmu hinga pada akhirnya aku mendapat kabar mengenai pameranmu dari Arka. Arka yang memberi tahu. Akan tetapi ketika aku datang berkunjung telah usai semuanya. Dan aku hanya menitipkan susu coklat dan batanganya”
“Kau tau seuanya kak?”
“Tentu” jawab Rifan sambil tersenyum padanya.

Dan kali ini mungkin mereka berkata lebih jauh lagi. Dan seperti inilah akhir dari perjalanan Agis. Seperti kekuatan lilin yang berusaha menerangi meski sulit. Rifan berusaha menjadi yang terbaik kembali untuk gadisnya. Seperti kecintaan yang ia harap agar tak pernah padam. Seperti rasa sayang yang ia inginkan agar gadisnya sembuh dari tempramentalnya. Hanya senyuman yang mungkin akan dapat mengisyaratkan. Tentang mereka dan perjalananya yang begitu lama. Dan senyuman itu akhirnya tersungging dari keduanya. Agis dan Rifan. Dan mereka telah berjanji untuk memulai kembali. Dan mungkin akan bermain basket lagi. Dan mungkin besok atau lusa Agis yang akan membuatkan susu coklat panas untuk Rifan. Untuk lelaki yang benar-benar mencintainya. Ahh cinta bahkan aku tak tahu apa itu cinta. Hanya sekedar senyuman yang aku tahu hanya orang-orang tertentu yang dapat merasakanya. 

Tamat

Selasa, 24 Desember 2013

Kecewa


Kecewa

Kaki ku masih kusilakan. Masih saja memandang barisan aksara yang berjejer rapi menjadi wacana. Punggung ku pun masih kusenderkan di tembok sudut koridor. Di dekat bak sampah di bawah lampu neon yang sedikit menerangi suramnya koridor ini. Dan yang jelas  masih kunikmati siomay hangat sembari mendengarkan nyanyian hujan yang sedari tadi ajeg dijatuhkan Tuhan. Entah memang. Entah kenapa beberapa hari ini orang-orang yang dulu membuatku merasa bangga karena ada kini justru membuatku kecewa. Kecewa dengan statement, lontaran, pesimis, sikap haah sifat khas remaja, yaa seperti menyodorkan harapan di awal pertemuan saja, dan selanjutnya ya seperti ini, acuh, tak peduli atau bahkan mungkin benci. Dan mungkin memenag hanya mata yang sayu dan beratnya hembusan nafas yang tahu. Hhuhfhh.

Sesekali ku obrak-abrik halaman bukuku. Mencari ruang-ruang yang pas untuk kubaca sambil berharap dapat mengembalikan mood-ku. Aku memang sempat bersyukur atau mungkin lebih tepatnya bangga pernah mengenal sosoknya. Dengan sholihnya, seperti tak ada alasan lagi untuk para wanita menghindar dari hipnotisnya. Memang dulu seperti aku diingatkan. Aku yang awul-awulan dan brutal sedikit bisa berkenalan dengan Tuhan. Namun pada kenyataanya itu memang hanya dulu, memang hanya dua atau tiga kali bertemu saja. Dan selanjutnya yaa seperti ini, merasa di acuhkan atau memang tak dianggap. Biasalah pria, mungkin lebih mudah berjalan, menari, dan berlari dari satu ruh wanita ke wanita lainya.

Dan dia yang kedua, dengan multitalent yang dimilikinya. Pun sama. Apasih sandang yang tak melekat di pelipisnya, intelek. kritis. aktiv. Bahkan semua seperti milikinya. Seperti hanya dengan kedipan mata pun ia mampu menciptakan hal-hal yang kuanggap luar biasa untuk seukuranku. Tapi ya hanya untuk beberapa masa saja memang. Dan berakhir sama. Ya sama. Berlalu dengan sendirinya. Merasa seperti terlalu bodoh dan dengan mudah nya di ombang-ambingkan perasaan sendiri. Walaupun memang dia sempat mengecas semangatku untuk beberapa waktu.

Dan dia dan dia dan dia dan dia yang lain pun sama. Ahh.. mulai bosan dengan zat yang di beri nama kecewa. Bahkan pria, teman wanita ku pun sama. Berjalan menuju angan dan keegoisanya masing-masing. Dan mungkin tanpa sengaja mulai menampakkan keorisinilan pribadinya setelah sekian masa bersama. Mungkin memang teori S. Takdir Alisjahbana mulai menjelma menjadi nyata. Teori yang pernah menjadi Polemik pada masanya “materialisme, intelektualisme, egoisme, dan individualisme”. Yaa mungkin seperti itulah lebih tepatnya. Walau aku tak tau apa motif perbuatan mereka hingga menghasilkan kata kecewa. Dan mungkin untukku kali ini sulit untuk di cas kembali. Atau mungkin hanya sekedar mengembalikan image nya di mataku pun sulit baginya. Walaupun memang tak boleh melihat seseorang dari kaca mata kekecewaan. Yang sama saja aku egois pula. Dan apa bedanya aku dengan mereka? Akan tak ada.

Hingga hujan reda pun aku masih bersila. Hanya saja siomay yang kubiarkan saja kini telah hilang kehangatanya. Kubujuk ruh ku untuk kembali lagi berada di dunia nyata. Meski sedikit banyak lega, tetap saja rasa itu ada. Iya rasa itu. Apalagi kalau bukan kecewa. Mungkin kecewa ada karna aku pun juga mengecewakan mereka. Dan lebih bodohnya lagi karna justru aku menyalahkan mereka. Dan entah kenapa aku tak ingin disalahkan atau berada di posisi yang mengecewakan. Dan akan ku usahakan untuk pura-pura tak tahu mengenai hal ini.

Kurapatkan kembali bukuku. Kuhembuskan lagi nafas beratku. Kepala ini seperti pohon mangga yang terlalu banyak buah yang menggelayutinya. Berat. Hanya mampu kusandarkan dan lagi-lagi kusandarkan di tembok sudut koridor sisi tempat sampah. Kecewa. Memang kata yang hanya terdiri dari lima fonem yang berbeda ini, kini telah mampu membujuk ruh ku untuk menyusupi kata itu sendiri. Yaa.. mungkin memang aku harus berjalan di bawah sejuknya bekas hujan lagi. Dan hanya untuk sekedar mengingatakan bahwa kau pun juga mengecewakan.

Dan yaaa.. memang atau mungkin aku hanya terlalu menikmati saja perjalananku. Entah lah yang pasti memang hingga saat ini aku sendiri pun harus menyembunyikan kekecewaanku. Dan aku menikmati kok. Toh hujan masih terus saja menemani. Yang jelas senyuman yang katanya ibarat mantra konyol penuh arti ini lah yang berhasil mengalahkan rumus kekecewaan. Yaa.. senyuman. S e n y u m a n.

Karangganyar di ujung usia 2013