Senin, 03 Maret 2014

Misteri


Misteri

Gelap. Memang masih gelap. Hanya sinar matahari yang sedikit mengintip. Bahkan suara kokok ayam yang biasanya membangunkan pun belum terindera telinga. Namun rumah bu Narsih sudah ramai oleh suara. Suara ibu-ibu yang bergerombol memperbincangkaan gosip yang beberapa hari ini mengusik warga desa dan membangkitkan ketakutan terutama ibu muda dan beranak gadis perawan. Hari ini Wanda, anak bu Narsi dinyatakan sudah tidak perawan setelah diculik dan kemudian dikembalikan satu malam setelah penculikan. Tri dan Dewi sudah terlebih dahulu harus mengalami hal yang sama sebelum penculikan itu dialami Wanda. Mereka bertiga memanglah molek, dengan kulit yang putih dan perawakan badan bongsor. Terlebih lagi pakaian yang sering merka kenakan tidak sepenuhnya menutupi struktur badan mereka. Sering ketika sore warga desa melihat mereka bersepeda atau sekedar berjalan-jalan sore. Entah karena sekedar bersepeda atau memiliki maksud lain, memamerkan kecantikanya. 

Sore itu seperti biasanya Wanda jalan-jalan sore sendirian. Ia melewati beberapa jalanan sepi yang dibingkai oleh pemandangan sawah. Banyak pasang mata anak lelaki yang mengekor dibadanya. Di lapangan sepak bola, sebagian orang pun begitu. Setibanya di dekat bekas sekolah dasar yang tidak lagi difungsikan. Dari jauh ia melihat seorang lelaki yang cukup dewasa. Setiap ia jalan-jalan selalu saja ia melihat lelaki itu. Ia hanya diam dan melajutkan perjalanan yang sebenarnya tak lagi jauh dengan rumahnya. Baru mulai berjalan melewati panjangnya bangunan sekolah. Lelaki yang dilihatnya tadi berjalan berlawanan arah dari lakunya, berjalan kearahnya. Lelaki itu mengeluarkan setangan kain dari sakunya. Setibanya di dekatnya tiba-tiba bruukkk... ia tak sadarkan diri lagi—Wanda—

Semakin larut malam bu Narsi mencari-cari anaknya. Dengan menunggang sepeda motor bu Narsi berputar putar mengelilingi desa, bahkan hingga desa sebelah, namun tak didapatinya anaknya. Sesekali ia bertanya pada warga desa yang ditemuinya, dan hanya melapor bahwa memang anaknya menyusur jalan depan rumahnya tadi. Hingga matahari semakin tertutup malam dan kemudian hilang. Bu Narsi belum lagi menjumpai anaknya. Kata orang-orang desa Wanda di culik Gunduruwo karena jalan-jalan di waktu senja, memang senja adalah waktunya umat setan bergentayang. Sesaji dan sesepuh desa telah berkumpul di teras rumah bu Narsi. Upacara pemanggilan ruh dan setan dimulai. Suasana desa menjadi sedikit mistik ditambah lagihujan erimis yang mengguyuri desa. Lagu-laguan Jawa tak hentinya didendangkan. Semakin malam pewayangan kecil mulai dilakonkan karena wanda belumjuga dikembalikan. Hingga semalam suntuk dan pagi menjelang. Beberapa gerombol orang yang bertugas keliling desa untuk mencari Wanda pun telah kembali ke rumah bu Narsi. Dengan tangan hampa dan hanya membawa kantung mata yang tebal menandakan kantuk semalaman. Begitulah Tri dan Dewi dulu juga mengalami. Meski sesaji dan upacara telah dilaksanakan Tri dan Dewi juga tidak dikembalikan. Hanya seingat mereka ketika pagi menjelang dan menyilaukan matanya. Ia berada di sekolah yang tidak difungsikan itu lagi. Di dalam salah satu ruang pembelajaran. Dengan masih menggunakan pakaian lengkap, meski dari lakunya orang-orang desa menerawang kalau mereka sudah tidak perawan.

Dan benar saja. Pagi-pagi ini Wnda pulang. Genderuwo telah memulangkanya. Ia berjalan sayu menuju rumahnya. Sama seperti Tri dan Dewi, ia juga sudah tidak perawan. Bu Narsi menangisi. Juga bapaknya. Wanda sendiripun tersedu-sedu. Dan sejak saat itu para warga desa tak melihat  Wanda jalan-jalan sore lagi untuk beberapa hari. Dan setelah sebulan kemudian Wanda tak lagi memakai baju yang menampakkan jenjang kaki dan lenganya. Tak banyak lagi mata lelaki yang meliriknya. Bajunya dinilai lebih sopan. Dengan kaos-kaos dan rok yang patut sebawah lutut.