Misteri
Gelap.
Memang masih gelap. Hanya sinar matahari yang sedikit mengintip. Bahkan suara
kokok ayam yang biasanya membangunkan pun belum terindera telinga. Namun rumah
bu Narsih sudah ramai oleh suara. Suara ibu-ibu yang bergerombol
memperbincangkaan gosip yang beberapa hari ini mengusik warga desa dan
membangkitkan ketakutan terutama ibu muda dan beranak gadis perawan. Hari ini
Wanda, anak bu Narsi dinyatakan sudah tidak perawan setelah diculik dan
kemudian dikembalikan satu malam setelah penculikan. Tri dan Dewi sudah
terlebih dahulu harus mengalami hal yang sama sebelum penculikan itu dialami
Wanda. Mereka bertiga memanglah molek, dengan kulit yang putih dan perawakan
badan bongsor. Terlebih lagi pakaian yang sering merka kenakan tidak sepenuhnya
menutupi struktur badan mereka. Sering ketika sore warga desa melihat mereka
bersepeda atau sekedar berjalan-jalan sore. Entah karena sekedar bersepeda atau
memiliki maksud lain, memamerkan kecantikanya.
Sore
itu seperti biasanya Wanda jalan-jalan sore sendirian. Ia melewati beberapa
jalanan sepi yang dibingkai oleh pemandangan sawah. Banyak pasang mata anak
lelaki yang mengekor dibadanya. Di lapangan sepak bola, sebagian orang pun
begitu. Setibanya di dekat bekas sekolah dasar yang tidak lagi difungsikan. Dari
jauh ia melihat seorang lelaki yang cukup dewasa. Setiap ia jalan-jalan selalu
saja ia melihat lelaki itu. Ia hanya diam dan melajutkan perjalanan yang
sebenarnya tak lagi jauh dengan rumahnya. Baru mulai berjalan melewati
panjangnya bangunan sekolah. Lelaki yang dilihatnya tadi berjalan berlawanan
arah dari lakunya, berjalan kearahnya. Lelaki itu mengeluarkan setangan kain
dari sakunya. Setibanya di dekatnya tiba-tiba bruukkk... ia tak sadarkan diri
lagi—Wanda—
Semakin
larut malam bu Narsi mencari-cari anaknya. Dengan menunggang sepeda motor bu
Narsi berputar putar mengelilingi desa, bahkan hingga desa sebelah, namun tak
didapatinya anaknya. Sesekali ia bertanya pada warga desa yang ditemuinya, dan
hanya melapor bahwa memang anaknya menyusur jalan depan rumahnya tadi. Hingga
matahari semakin tertutup malam dan kemudian hilang. Bu Narsi belum lagi
menjumpai anaknya. Kata orang-orang desa Wanda di culik Gunduruwo karena
jalan-jalan di waktu senja, memang senja adalah waktunya umat setan
bergentayang. Sesaji dan sesepuh desa telah berkumpul di teras rumah bu Narsi.
Upacara pemanggilan ruh dan setan dimulai. Suasana desa menjadi sedikit mistik
ditambah lagihujan erimis yang mengguyuri desa. Lagu-laguan Jawa tak hentinya
didendangkan. Semakin malam pewayangan kecil mulai dilakonkan karena wanda
belumjuga dikembalikan. Hingga semalam suntuk dan pagi menjelang. Beberapa
gerombol orang yang bertugas keliling desa untuk mencari Wanda pun telah
kembali ke rumah bu Narsi. Dengan tangan hampa dan hanya membawa kantung mata
yang tebal menandakan kantuk semalaman. Begitulah Tri dan Dewi dulu juga
mengalami. Meski sesaji dan upacara telah dilaksanakan Tri dan Dewi juga tidak
dikembalikan. Hanya seingat mereka ketika pagi menjelang dan menyilaukan
matanya. Ia berada di sekolah yang tidak difungsikan itu lagi. Di dalam salah
satu ruang pembelajaran. Dengan masih menggunakan pakaian lengkap, meski dari
lakunya orang-orang desa menerawang kalau mereka sudah tidak perawan.
Dan
benar saja. Pagi-pagi ini Wnda pulang. Genderuwo telah memulangkanya. Ia
berjalan sayu menuju rumahnya. Sama seperti Tri dan Dewi, ia juga sudah tidak
perawan. Bu Narsi menangisi. Juga bapaknya. Wanda sendiripun tersedu-sedu. Dan
sejak saat itu para warga desa tak melihat
Wanda jalan-jalan sore lagi untuk beberapa hari. Dan setelah sebulan
kemudian Wanda tak lagi memakai baju yang menampakkan jenjang kaki dan
lenganya. Tak banyak lagi mata lelaki yang meliriknya. Bajunya dinilai lebih
sopan. Dengan kaos-kaos dan rok yang patut sebawah lutut.