Membenahi kaca mata yang sedikit turun dari tempat bertenggernya.
Belum lama. Baru semalam sedikit memberanikan diri lagi untuk berfikir
mengenai --Apa lagi ya yang harus segera aku selesaikan?-- selain
menulis yang memang menjadi salah satu ritual yang aku suka. Tapi kakak
sekedar menulis saja itu tidak cukup. Dan memulai dari hanya sekedar
menulis itu juga bukan hal yang mudah kakak.
Mungkin sudah basi memang aku menceriterakan ini. Kemarin lusa dan lusa pukul enam pagi tanggal
21 April yang banyak dibingari dengan perayaan Hari Kartini. Tidak
terlalu kencang pagi itu aku mengemudikan sepeda bermesinku. Kembali
menuju kota --The Spirit of Java-- Surakarta. Kartini yang aku jumpai
pagi itu memang tidak pernah menulis surat ataupun buku seperti Raden
Ajeng Kartini. Tetapi tahukah? Yang beliau tuliskan dengan perjuangan
kaki dan tangn dengan nyata bagiku sama berartinya dengan surat-surat
Kartini dalam Habis Gelap Terbitlah Terang.
Hampir saja aku ingin teriak dan --kenapa?-- rasanya bodoh sekali kalau
sampai-sampai saya dan kita sendiri sebagai wanita tidak bisa
mengangkat derajat wanita lain. Masih jam enam, tapi kakinya telah
mengayuh pedal mengantarkan pesanan keset yang dihargai berapa sih
harganya? Masih pukul enam tapi tangan-tangan rapuh beliau sydah
mencetak bata kakak.
"Ibu nyetak bata tiap hari bu?"
"Iya nak, ibu nyetak bata tiap hari"
Taringat dengan caption temanku Wik di akun instagramnya. Bukankah
ketika kita mendaki, dan menikmati puncak, pada akhirnya kaki ini hanya
akan turun lagi? Bukan hanya sekedar bagaimana sukses kita dapatkan,
bukan sekedar bagaimana menikmati udara puncak yng menggairahkan, tetapi
bagaimana kebermanfaatan kita di lereng kakak. Udara puncak memang
menggirahkan, tetapi senyuman masyarakat lebih menjanjikan. Dan ketika
suatu saat kita terbangun di dunia yang sudah lain atmosfernya
--akhirat--. Senyuman-senyuman itulah yang insyaAllah akan membantu kita
menjawab "Untuk apa masa mudamu nak?"

