Minggu, 03 Mei 2015

Kartini Masa Kini?

Membenahi kaca mata yang sedikit turun dari tempat bertenggernya. Belum lama. Baru semalam sedikit memberanikan diri lagi untuk berfikir mengenai --Apa lagi ya yang harus segera aku selesaikan?-- selain menulis yang memang menjadi salah satu ritual yang aku suka. Tapi kakak sekedar menulis saja itu tidak cukup. Dan memulai dari hanya sekedar menulis itu juga bukan hal yang mudah kakak.

Mungkin sudah basi memang aku menceriterakan ini. Kemarin lusa dan lusa pukul enam pagi tanggal 21 April yang banyak dibingari dengan perayaan Hari Kartini. Tidak terlalu kencang pagi itu aku mengemudikan sepeda bermesinku. Kembali menuju kota --The Spirit of Java-- Surakarta. Kartini yang aku jumpai pagi itu memang tidak pernah menulis surat ataupun buku seperti Raden Ajeng Kartini. Tetapi tahukah? Yang beliau tuliskan dengan perjuangan kaki dan tangn dengan nyata bagiku sama berartinya dengan surat-surat Kartini dalam Habis Gelap Terbitlah Terang.

Hampir saja aku ingin teriak dan --kenapa?-- rasanya bodoh sekali kalau sampai-sampai saya dan kita sendiri sebagai wanita tidak bisa mengangkat derajat wanita lain. Masih jam enam, tapi kakinya telah mengayuh pedal mengantarkan pesanan keset yang dihargai berapa sih harganya? Masih pukul enam tapi tangan-tangan rapuh beliau sydah mencetak bata kakak.

"Ibu nyetak bata tiap hari bu?"

"Iya nak, ibu nyetak bata tiap hari"


Taringat dengan caption temanku Wik di akun instagramnya. Bukankah ketika kita mendaki, dan menikmati puncak, pada akhirnya kaki ini hanya akan turun lagi? Bukan hanya sekedar bagaimana sukses kita dapatkan, bukan sekedar bagaimana menikmati udara puncak yng menggairahkan, tetapi bagaimana kebermanfaatan kita di lereng kakak. Udara puncak memang menggirahkan, tetapi senyuman masyarakat lebih menjanjikan. Dan ketika suatu saat kita terbangun di dunia yang sudah lain atmosfernya --akhirat--. Senyuman-senyuman itulah yang insyaAllah akan membantu kita menjawab "Untuk apa masa mudamu nak?"