Selasa, 24 Desember 2013

Kecewa


Kecewa

Kaki ku masih kusilakan. Masih saja memandang barisan aksara yang berjejer rapi menjadi wacana. Punggung ku pun masih kusenderkan di tembok sudut koridor. Di dekat bak sampah di bawah lampu neon yang sedikit menerangi suramnya koridor ini. Dan yang jelas  masih kunikmati siomay hangat sembari mendengarkan nyanyian hujan yang sedari tadi ajeg dijatuhkan Tuhan. Entah memang. Entah kenapa beberapa hari ini orang-orang yang dulu membuatku merasa bangga karena ada kini justru membuatku kecewa. Kecewa dengan statement, lontaran, pesimis, sikap haah sifat khas remaja, yaa seperti menyodorkan harapan di awal pertemuan saja, dan selanjutnya ya seperti ini, acuh, tak peduli atau bahkan mungkin benci. Dan mungkin memenag hanya mata yang sayu dan beratnya hembusan nafas yang tahu. Hhuhfhh.

Sesekali ku obrak-abrik halaman bukuku. Mencari ruang-ruang yang pas untuk kubaca sambil berharap dapat mengembalikan mood-ku. Aku memang sempat bersyukur atau mungkin lebih tepatnya bangga pernah mengenal sosoknya. Dengan sholihnya, seperti tak ada alasan lagi untuk para wanita menghindar dari hipnotisnya. Memang dulu seperti aku diingatkan. Aku yang awul-awulan dan brutal sedikit bisa berkenalan dengan Tuhan. Namun pada kenyataanya itu memang hanya dulu, memang hanya dua atau tiga kali bertemu saja. Dan selanjutnya yaa seperti ini, merasa di acuhkan atau memang tak dianggap. Biasalah pria, mungkin lebih mudah berjalan, menari, dan berlari dari satu ruh wanita ke wanita lainya.

Dan dia yang kedua, dengan multitalent yang dimilikinya. Pun sama. Apasih sandang yang tak melekat di pelipisnya, intelek. kritis. aktiv. Bahkan semua seperti milikinya. Seperti hanya dengan kedipan mata pun ia mampu menciptakan hal-hal yang kuanggap luar biasa untuk seukuranku. Tapi ya hanya untuk beberapa masa saja memang. Dan berakhir sama. Ya sama. Berlalu dengan sendirinya. Merasa seperti terlalu bodoh dan dengan mudah nya di ombang-ambingkan perasaan sendiri. Walaupun memang dia sempat mengecas semangatku untuk beberapa waktu.

Dan dia dan dia dan dia dan dia yang lain pun sama. Ahh.. mulai bosan dengan zat yang di beri nama kecewa. Bahkan pria, teman wanita ku pun sama. Berjalan menuju angan dan keegoisanya masing-masing. Dan mungkin tanpa sengaja mulai menampakkan keorisinilan pribadinya setelah sekian masa bersama. Mungkin memang teori S. Takdir Alisjahbana mulai menjelma menjadi nyata. Teori yang pernah menjadi Polemik pada masanya “materialisme, intelektualisme, egoisme, dan individualisme”. Yaa mungkin seperti itulah lebih tepatnya. Walau aku tak tau apa motif perbuatan mereka hingga menghasilkan kata kecewa. Dan mungkin untukku kali ini sulit untuk di cas kembali. Atau mungkin hanya sekedar mengembalikan image nya di mataku pun sulit baginya. Walaupun memang tak boleh melihat seseorang dari kaca mata kekecewaan. Yang sama saja aku egois pula. Dan apa bedanya aku dengan mereka? Akan tak ada.

Hingga hujan reda pun aku masih bersila. Hanya saja siomay yang kubiarkan saja kini telah hilang kehangatanya. Kubujuk ruh ku untuk kembali lagi berada di dunia nyata. Meski sedikit banyak lega, tetap saja rasa itu ada. Iya rasa itu. Apalagi kalau bukan kecewa. Mungkin kecewa ada karna aku pun juga mengecewakan mereka. Dan lebih bodohnya lagi karna justru aku menyalahkan mereka. Dan entah kenapa aku tak ingin disalahkan atau berada di posisi yang mengecewakan. Dan akan ku usahakan untuk pura-pura tak tahu mengenai hal ini.

Kurapatkan kembali bukuku. Kuhembuskan lagi nafas beratku. Kepala ini seperti pohon mangga yang terlalu banyak buah yang menggelayutinya. Berat. Hanya mampu kusandarkan dan lagi-lagi kusandarkan di tembok sudut koridor sisi tempat sampah. Kecewa. Memang kata yang hanya terdiri dari lima fonem yang berbeda ini, kini telah mampu membujuk ruh ku untuk menyusupi kata itu sendiri. Yaa.. mungkin memang aku harus berjalan di bawah sejuknya bekas hujan lagi. Dan hanya untuk sekedar mengingatakan bahwa kau pun juga mengecewakan.

Dan yaaa.. memang atau mungkin aku hanya terlalu menikmati saja perjalananku. Entah lah yang pasti memang hingga saat ini aku sendiri pun harus menyembunyikan kekecewaanku. Dan aku menikmati kok. Toh hujan masih terus saja menemani. Yang jelas senyuman yang katanya ibarat mantra konyol penuh arti ini lah yang berhasil mengalahkan rumus kekecewaan. Yaa.. senyuman. S e n y u m a n.

Karangganyar di ujung usia 2013


Selasa, 17 Desember 2013

Ayahku Seorang Tukang Tambal Panci


Ayahku seorang tukang tambal panci
Berkeliling menawarkan jasa yang tak semua orang menghargai
Ayahku seorang tukang tambal panci
Berjalan menyusuri panjangnya trotoar yang bagi kami penuh arti
Tak pernah cintaku berpagar malu
Untuk ayahku yang seorang tukang tambal panci
Akankah aku juga akan mewarisi?
Sandang tambal panci yang hanya milik ayahku tercinta ini

Surakarta 2013

salam untuk ayah dari embak
dari embak yang cinta dan rindu..

Minggu, 15 Desember 2013

Manisan


Kupercepat langkah kaki ku meski ngilu masih saja setia menemaniku. Petang ini aku memang harus maraton dengan waktu. Tak mungkin memang ku biarkan dagangan ku dijamah air hujan. Mau tak mau aku harus tergopoh-gopoh berlarian. Dengan gerobak manisan yang kupikul di pundak, kujelikan pandangan untuk mengkap ruang teduhnya hujan. Hanya sisa-sisa lapak yang aku temukan. Di sudut panjangnya jalanan. Dengan remang sorot lampu yang berlarian. Kuistrahatkan tengkukku. Yang sedari tadi kubiarkan mengeluh kesakitan. Bahkan tengkuk, mungkin jika kaki ku tertembak senapan pamong praja pun aku harus tetap berjualan.

“aku ridu ayah” hanya sebersit kata itu yang mampu aku ucapkan. Sosok yang belum sempat aku mengenal lebih jauh pribadinya. Sosok yang dulu selalu berkata “ini untuk masa depanmu dan ibu dan teman-teman mu nak”.
Aku rindu yah. Apa ayah melihatku setiap pulang sekolah aku menjajakan manisan yah. Apa ayah melihat ibu yang mau bekerja apa saja untuk biaya sekolahku. Aku hanaya ingin sekali saja menjamah peluk mu lagi. Ingin sekali menikmati tempe goreng buatan ibu di dipan sudut rumah lagi.

“Apa aku boleh menangis untuk ayah?”

Ayah.. kini aku biasa dicaci maki. Aku biasa diacuhkan sendiri. Aku biasa ditemani rasa sakit yang tak tega aku bercerita pada ibunda. Apa ayah merindukan kami.
 Apa ayah akan kecewa ?
Setiap pagi aku masih berangkat sekolah ayah. Hanya saja tak hanya tas yang aku bawa. Kusempatkan menyimpan beberapa manisan yang memang sengaja ibu sediakan. Tak pernah berubah rasanya. Masih tetap enak seperti yang dulu biasa kita nikmati. Aku tak malu. Toh memang aku sudah biasa dicaci. Seperti pesan ayah “syukuri setiap nikmat yang Tuhan berikan”
Kaki ini memang masih diijinkan berjalan ayah. Dan mata masih saja tersenyum. Dan kali ini aku berteduh di bawah hujan. “ayah aku merindukanmu, aku ingin banyak bercumbu lagi dengan mu”

Air mata memeng tak ada harganya. Apalagi memeng hanya untuk menangisi seseorang yang telah tiada. Sesekali memang aku merasa rindu. Sosok ayah yang dulu menjadi imam sholatku. Yang selalu kubanggakan. Dimata ku dia memang lebih dari sekedar kata pahlawan.

Kali ini kupandang gerobak manisanku. Kuhirup segarnya aroma hujan. kuedarkan pandangan mendeteksi masih adakah air yang berjatuhan. Aku tahu Tuhan pasti punya cara tresendiri. Menyampaikan rindu ku pada ayah. Aku harus segera pulang. Tak ingin lagi ibu harus menungguiku di dipan depan rumah hingga ketiduran. Hanya untuk menjemput putranya yang berjalan membawa gerobak manisan.

“Ayah aku merindukan mu. Muncullah dalam mimpiku. Aku akan segera pulang menemuni ibu. Hujan yang sedari tadi meneduhiku telah lenyap dikalahkan waktu. Esok aku harus sekolah ayah. Dan malam ini aku akan belajar. Dengan sarung dan lampu neon pemberian ayah. Kado ulang tahunku terakhir dari ayah.”

“Ayah tenang saja. Baju kebanggaan ayah masih kusimpan untuk kujaga. Foto ayah juga kumandikan setiap pagi. Kau boleh hadir dimimpi ku dengan seragam itu ayah. Doa ku selalu untuk ayah.”

Hujan sudah reda. Waktunya kulangkahkan kembali kekiku darimana aku bermula. Dari gubuk sudut kota yang jauh dari cahaya. Ku usap sisa air mataku. Tak ingin ibu tahu. Kembali kuletakkan gerobakku. Di pundak sebelah kanan dari bahuku. Tak kupedulikan teriakan ngilu. Dan esok hari lembaran ini harus aku lalui lagi. Sepulang sekolah menjajakan manisan buatan ibu. Rutinitas yang tak boleh aku merasa jemu.

Segera kulangkahkan kakiku. Sampai dirumah aku ingin memandang lama gambar ayah. Ingin kuhirup aromanya yang kuharap masih tersisa di baju-baju kebangganya. Memang katanya ayah dulu berperang. Dan katanya diberi nama veteran. Dulu sebelum aku lahir negeri ini pernah dijajah, ungkap ayah. Namun dijajah pun apa aku tak tahu artinya. Setiap pagi hanya kupandang gambar ayah dengan bambu yang iya genggam tepat di dadanya. Mungkin seperti itulah veteran. Ibu pun tak mau menjelaskan. Ahh sudahlah veteran atau bukan toh aku juga akan tetap menjajakan manisan. Sandang itu juga tak akan mengubah jalan kaki kami. Langkahku memang harus segera ku ganti dengan lari. Ibu pasti sudah menungguiku. Menunggu untuk menjemputku. Dan menunggu untuk rupiah. Rupiah yang tak sempat ayah wariskan pada kami.

Surakarta 2013

Untuk para pahlawanku yang saat ini diselundupkan waktu. Trimakasih untukmu kurasa memeng hanya seperti ungkapan dangkal. Tapi, kuteruskan juangmu adalah tekat kami yang kutahu kau pasti telah mengetahui. Merah putih ini yang akan menjadi atap kebanggaan kami. Kami dan kau dan aku. Untuk juangmu, terimakasih. Dan untuk segalanya, terimakasih.

Jumat, 13 Desember 2013

Gadis Sepeda Mini

Memang kuamati
Gadis kecil dengan atasan putih dan sepeda mini
Memperhatikan kami. aku dan ibu
Tak berkedip dan sesekali nafasnya terhenti
Bola matanya bening
Hidungnya mbangir
Tanganya mengenggam ptastik es teh kecil
Bajunya lusuh
Aku tahu dia datang menunggang sepeda mini
Sepeda mini warna merah berkeranjang besi
Sandal jepitnya bertali rafia
Dan kulihat ada beberapa luka
Rautnya hanya seperti iri
Aku ingin bertanya tentangnya
Tentang gadis kecil dan sepeda mini
Kutarik ujung atasan ibuku
Kuajak menghampiri gadis itu
Kurendahkan badanku,
Setapak kakinya melangkah
Langkah lawan arah depan
Mungkin dia takut
Tak mengapa
Ku sapa

Gadis kecil dimana ibumu ?

Ibuku Seorang Pelacur..

                                                                                                                                Surakarta 2013

After Rain

Kurebahkan kepalaku. Penat ini rasanya seperti mantra yang menggelayuti ragaku. Bayangan yang tepat berada di pesisir awang-awang ku ini layaknya rumusan alkohol yang salah aku menakarnya. Penuh dengan percikan larutan kimia yang mungkin ketika tiba saat nya akan meledak. Satu daging yang biasa orang menyebutnya dengan panggilan hati, yang masih tersimpan pada tempatnya kini mulai bergemuruh. Pandangan ku hanya aku fokuskan pada plafon atap kamar yang sedari tadi masih setia menyembunyikan ku. Mungkin mata ku sebam. Kepalaku juga masih terasa berat bahkan mungkin melebihi pusingnya lelaki hidung belang yang semalaman mabuk-mabukan. Masih terbayang jelas sosok yang hati ini jelas masih berteriak sayang. Kuajak ruh ku untuk kembali membangunkan ragaku. Kujulurkan kakiku. Kulangkahkan dan kuraih sebuah buku yang menurutku memang sudah lusuh. Kulepaskan kaitan yang menguncinya. Kubuka lembar demi lembar buku itu. Semakin kucoba membalik halaman buku itu, semakin banyak pula kenangan yang menggelayut di hadapanku. Memang buku itu tempatku menulis dan tempatnya menulis. Tapi belum sempat aku menjelajahi halaman lebih jauh cepat-cepat kututup kembali. Tak ku sangka air mata ini menetes lagi.

“percayalah cantik, Tuhan akan memberimu yang terbaik” hmm gumam ku lirih menghibur diriku. Sedikit senyum menyeringai dibibirku. Seperti usapan lembut yang dengan nyata mengelus pipiku. Ponselku berdering. Satu pesan masuk darinya. Kubiarkan pesan itu ada tanpa aku membukanya.

“ahh masa lalu. Aku tak ingin mengussikmu kembali mas”

“hmm ayolah, semangat Mumu kan hari ini mau ke toko buku terus beli eskrim sama ccoklat masa iya sih sedih sedihan terus”
 
Tak menunggu lama.
Kulangkahkan kaki ku keluar kamar bersemangat. Kusapa ibu yang bersenandung ria sambil meramu adonan kue kue kecil kesukaan ku. Mungkin beliau bingung denganku. Baru saja masuk kamar banting pintu, tau tau keluar senyam senyum sambil bergumam ria sendiri. Aku memang sering dibekali ibu dengan kue. Ibu memang begitu, selalu saja membekaliku dengan makanan kecil yang sengaja ia bungkus rapi dikotak makan ku. Menyiapkan ini itu. Bertanya kepadaku mau bawa bekal nasi dengan lauk apa. Ntar mau dijemput apa enggak. Atau kadang mengingatkan apakah ada barang ku yang terlupa.  Bahkan kadang ketika deadline ulangan mampir ke aku beliau menyuapiku yang sedang duduk manis baca buku di meja belajar. Begitulah aku selalu manja.

Kali ini kududukkan tubuhku di sofa empuk ruang tamu. Beberapa kali kutinggikan kepala ku untuk mengetahui apakah ada tamu masuk ke halaman atau tidak. Hari ini memang aku sedang ada janji. Ya mungkin bisa dibilang kencan lah. Tapi ke toko buku. Sebenarnya aku berharap aku bisa ke toko buku kembali, tapi bukan dengan nya. Dengan yang dulu. Ya yang dulu. Aku bingung untuk menentukan. Ahh biarlah. Tuhan pasti punya cara untuk memberitahukan.

Dua menit belum datang. Lima menit belum datang juga. Emm lima belas menit kemudian aku ternyata tertidur menunggunya yang tak kunjung datang. Tiba-tiba pipiku terasa hangat. Seperti ada sesuatu yang melekat. Kucoba membuka kelopak mataku. Ternyata kak Andi duduk menungguiku di bibir sofa.

“kamu sakit ??” itu kata pertama yang kudengar dari mulutnya.

“enggak kok kak” kujawab sambil tersenyum.

“itu matanya merah, kamu habis nangis ?”

Mataku memang terlihat memerah walaupun kaca mata telah bertengger indah di depan mataku. Aku hanya terdiam mendengar pertanyaanya. Tanya dengan raut yang tulus. Tak ada yang disembunyikan. Bagaimana aku akan menyianyiakan orang yang begitu menyayangiku. Yang mau menerima apapun keadaanku. Apapun kekuranaganku. Bahkan terlampau sering aku melukai hatinya demi memikirkan masa kelabu lalu ku itu.

“enggak kak, yuk berangkat aku mau es kri sama coklat” rengekku mengalihkan pembicaraan.

“ayuk bangun dong” jawabnya sambil tersenyum

“ini jilbabnya udah bener apa belum kak, tadi kan aku pake tidur” jawabku manja sambil memanyunkan bibir ku

“udah cantik kok” gombalnya sambil tersenyum menyeringai menampakkan deretan gigi putihnya.
                                                                                    ~~~
Kami segera bergegas untuk berangkat. Setelah berpamitan dengan ibu, gas segera berpacu dengan waktu menuju kedai es krim di samping toko buku. Sedikit canda mengisi ruang waktu kaku diantara kami. Aku memang mengenalnya sudah sejak lama, namun baru-baru ini aku dekat denganya. Tapi aku bersyukur adanya dia menghapuskan rasa gundah akan masa laluku. Masa yang harus ku tinggalkan karena kekecewaanku. Aku harus pergi melepasnya yang sebenarnya aku masih menyayanginya. Entah itu disebut dengan kehadiran orang ketiga atau memang dia menginginkan hubungan dengan wanita lain tanpa pengetahuanku. Aku memang bodoh. Mudahnya aku percaya. Memang tidak dalam waktu yang muda aku menjalani dengan nya. Hampir tiga puluh enam bulan aku memperjuangkanya. Selama aku membiarkan benakku berlayar sesukanya, ternyata ada yang memperhatikan ku. Lagi lagi dengan senyuman tulus yang tak terangkum dalam kamus manapun. Aku harus bersyukur dengan anugrah Tuhan kali ini.

“kakak apa sih dari tadi ngeliatin aku terus emm ..” protes ku

“sapa suruh melamun”

“aku kan ngelamunin kakak hhe” ujarku membuka percakapan

“belajar nggombal dari mana kamu. Masi kecil aja gombalin kakak”

“ihh ayuk buruan kak ketoko bukunya. Keburu abis entar kak”

“emang tukang siomay apa daganganya laku sehari doang. Entar kalo bukunya abis kan kita bisa buat buku sendiri hhe” guraunya menggodaku.

“ihh kakak ngombal deh jelegg :p”

Diluar ternyata rintik hujan meneduhi kami. Aku menunggu kak Andi yang bergegas melangkah ke mushola. Terlalu lama mengobrol hingga waktu ashar sudah harus dipenuhi. Sambil duduk dibangku sudut kedai. Ku keluarkan selembar kertas origami berwarna biru tua dari tas ranselku. Dengan semangat pula kuraih pulpen warna ungu untuk menyempurnakan kertas yang ada di depanku.

“terimakasih Tuhan untuk anugerah ini. Ternyata Kau berikan pengganti yang lebih baik untukku. Yang dengan senyuman tulusnya aku telah mengerti untuk dialah saat ini hadirku. Bahkan aku telah mampu melewati jembatan pemahaman, bahwa masa lalu kelabu itu pembelajaran. Akupun harus bersyukur pula akan kehadiranya yang lalu. Masaku kini bukan untuknya lagi. move on. aku akan berusaha untuk itu”. Kugerakkan tanganku untuk melipat dan melipat hingga seekor angsa hidup dari secarik kertas ku. Kulihat dari koridor kedai, tampak dari kejauhan sosok tegap yang kini mampu menciptakan kembali pelangi senyuman di bibirku. Sambil lalu kuletakkan angsa ku di atas genangan kecil air dan dibawah tetesan rintikan hujan di sudut atap kadai. Entah tinta yang ada di dalamnya akan pudar atau kah tidak. Aku akan tersenyum. Untuknya. Untuk dia yang mau dengan tulus menyumbangkan waktunya untukku. Mengingatkan sholatku. Menghiburku yang kadang justru kubalas dengan kata kasar yang tak seharusnya aku ucapkan.

Kini aku sadar. Tak akan kusia siakan. Pelangi seusai hujan ini mungkin yang akan menjadi saksi. Dan tetesan air hujan dan genangan air yang tampak di pinggir-pinggir jalanan.  Aku berterimakasih. Sangat berterimakasih. Kini kututup langkah kecil sore hari ini dengan senyuman. Kusambut sosok lelaki yang kini telah berjalan semakin mendekat. Aku akan berusaha untuk menyamai langkahnya. Menyamai rasanya. Dan rimbunnya bunga flamboyan di batas tapal jalanan ini menjadi saksi janjiku pada diriku sendiri. Untuk nya dan kita. Ya kita aku dan dia lebih tepatnya. Tak akan ku ulangi kesalahan ku lagi. Kesalahan menyianyiakan mu dan semoga masih ada waktu untuk kita alebih lama lagi.

Sore yang indah,
sengaja ku gerakkan tanganku untuk menekan tombol hp dengan mesra,
untuk ku ungkapkan kata-kata terindah untuk mu yang terindah,
semoga dapat meluluhkan segala keraguan,
semoga dapat menghancurkan kerasnya batu prasangka,
aku takkan melupakan mu,
aku takkan meninggalkan mu,
takkan menduakan cintamu,
aku tak ingin mengingkar janji,
tak ingin menjadi duri,
tak ingin menjadi api cinta yang membara,
rebahlah keu dipeluku,
lepaskan resahmu,
bebaskan jiwamu,
dari prasangka,
badi prasangka burukmu dari kerasnya batu curiga. .

khusus untuk de
maaf kalau salah

Andi .
.

Panggungrejo Jebres Surakarta

flamboyan

aku memang hanya sekedar mengagumi flamboyan. dan aku tak tahu harus dengan cara apa aku menyapaikanya. aku memang bodoh. untuk sekedar berkata -aku mencintai mu- pun tak bisa. hanya kuberanikan diri untuk menyapa dengan ekor mata. punggungnya.



flamboyan

Senja ini aku terduduk disini lagi. Ya.. disini. Ditempat biasa aku menyentuhkan jemariku menuju tuts-tuts keyboard portabel komputerku. Ditempat biasa aku menyeruput hangatnya secangkir susu coklat hangat. Ditempat biasa aku mengunyah sehelai demi helai biskuit coklat kesukaan ku. Yaa disinilah. Di taman sisi selatan yang memang aku menyukainya karena flamboyannya. Tepat di atas ku ini memang menjulang kokoh pohon flamboyan. Yang setia menjulurkan lengan dahanya untuk meneduhkan ku dari senyuman mentari. Dan ketika masanya tiba, bunga-bunga mungil kekuningan miliknya itu sering terlepas dari genggalam tangkainya dan jatuh menyentuhku, mengucapkan selamat datang padaku. Lebih lagi dengan aroma tanah yang baru saja diterpa rintikan hujan. Aroma yang sangan mengairahkan.

Disini, dikursi beton ini memang tempat biasa aku menrestart benakku. Setelah seharian beraktifitas kuluangkan seuntai waktu untuk sejenak menyunggingkan senyuman lagi. Bahkan pernah aku enggan untuk beranjak dari singgahsana ku ini. Hingga akhirnya aku dipaksa oleh senja untuk segera pulang karena mentari memang sudah kembali keperaduanya.

Tapi kali ini sepesial. Aku tak sendirian. Aku memang minta ditemani untuk melewati senja di bangku ini lagi. Setelah memang beberapa hari ini bahkan mungki bisa dikatakan dua minggu ini aku tak dapat menikmatinya. Yaa.. mungkin hanya itu yang berbeda. Tapi memang kali ini aku tak menyantap biskuit. Dan susu hangat kesukaanku pun belum dapat aku seruput karna memang masih dibelikan oleh kak Andi. Berulang kali ku hirup udara dan ku hempaskan lagi. Dan kuhirup kembali dan ku hempaskan lagi. Seolah kupermainkan udara anugerah Tuhan ini. Dan sesekali ku ayunkan kakiku dari bangku yang memang cukup tinggi untuk gadis kecil seukuran ku ini.

Aroma flamboyan yang tersentil angin mengejutkan penciumanku. Dan mungkin kali ini dia berkolaborasi dengan melati dan kenanga yang memang aku masih ingat persis bunga-bunga itu tertanam rapi di sisi kiri bangku beton ini. Namun begitu, lamunanku tak mau berhenti. Ia terus melaju mengorek memori yang seharusnya tidak untuk dilembarkan kembali. Menyajikan film-film yang di buat oleh otakku ini dulu ketika aku melihat pelangi dari bangku ini. Film ketika aku justru berteduh dibawah naungan hujan ketika melewati karpet hijau rerumputan koridor taman ini. Atau mungkin film ketika jemariku memainkaan portabel komputerku menuliskan seulur angan yang acak-acakan bertumpuk-tumpukan di benak. Dan pastinya saat itu memang aku harus berkutat dengan kaca mata yang bertengger dihidungku dan secangkir susu yang harus segera aku tengguk sebelum biskuit coklatku habis. Memang kenangan yang begitu menyejukkan. Akupun senang kembali memunculkanya lagi dalam benakku.

Hanya satu yang harus terus aku pengang. Bahwa aku tak boleh menyesali keadaan ku tempo ini. Aku tak boleh menyalahkan siapa pun atas bentuk cinta Tuhan pada ku saat ini. Kecelakaan tempo hari memang membawa pergi penglihatan ku. Jelas dokter benturan yang kuat waktu itu membuat syaraf yang menghubungkan penglihatkan dengan otakku tak dapat berfungsi lagi. Memang kini aku tak mampu melihat flamboyan yang berguguran terlepas dari tangkainya lagi. Dan tak mampu melihat pelangi yang melengkung seolah ingin membawaku dalam dekapnya. Dan tak mampu lagi tertawa-tawa menikmati lukisan senja ciptaan Tuhan. Tapi memang aku tak boleh menyesali. Toh aku masih dapat membau aroma flamboyan yang berkolaborasi dengan kawan-kawannya. Atau mengendus lembut asap tanah basah yang menggairahkan jiwa. Dan tentunya aku masih mampu bernafas untuk merasakan semuanya. Yaa semua memang aku anggap sama.

Aku memang berusaha untuk selalu melengkungkan senyuman. Dan kursi beton ini memang tetap menjadi singgahsana yang sepesial untuk ku. Dan kali ini dapat aku dengar dengan jelas melodi indah perpaduan aspal dengan bantalan alas kaki. Dan aku sangat ingat dengan aroma ini adalah aroma susu colkat hangat. Pastilah dia kak Andi. Kutunggu kehadiranya dengan tetap memperhatikan alunan alas kaki yang semakin mendekat. Hingga sapanya mampu menyunggingkan senyumanku.

sayang, mana tanganmu, susu colkat kesukaanmu udah menanti nih. persis seperti pesananmu tidak tertalu panas dan tidak terlalu manis” ucapnya lirih disampingku

terimakasih kak, Zara janji deh susu coklatnya ntar aku abisin sampe habis deh engga aku sisain kak. kan kasian kalo disisain trus kebuang akhirnya”. 

Tak lupa seutas senyuman aku suguhkan untuknya. Untuknya yang dengan tulus memberikan kasihnya. Menggandeng dan menemaniku walaupun hanya untuk sekedar duduk-duduk di bangku beton ini. Aku yakin ia pun pasti juga tersenyum ketika melihatku tersenyum. Satu hal lagi yang wajib untuk aku syukuri. Tuhan memang begitu mengerti akan kejiwaan ku. Dan terus menghadirkan malaikat-malaikat yang meneduhiku dengan juluran sayapnya. Setitik senyuman kembali aku sunggingkan. Dan sesekali ku seruput secangkir susu coklat hangat ini sebelum aromanya memudar. Dan kali ini dapat aku rasakan uraian rambut yang sedari tadi tertiup oleh angin ini di benahi oleh sentuhan hangat jemari kak Andi. Aku bersyukur. Sungguh bersyukur untuk pelukan Tuhan kali ini. Dan setidaknya aku masih mampu membau flamboyan yang terlepas dari tangkainya. Yaa.. flamboyan yang terlepas dari tangkainya. Aroma yang akan mengakhiri panjangnya goresan halus penaku kali ini.

Surakarta, 2013