aku memang hanya sekedar mengagumi flamboyan. dan aku tak tahu harus dengan cara apa aku menyapaikanya. aku memang bodoh. untuk sekedar berkata -aku mencintai mu- pun tak bisa. hanya kuberanikan diri untuk menyapa dengan ekor mata. punggungnya.
flamboyan
Senja ini
aku terduduk disini lagi. Ya.. disini. Ditempat biasa aku menyentuhkan jemariku
menuju tuts-tuts keyboard portabel komputerku. Ditempat biasa aku menyeruput
hangatnya secangkir susu coklat hangat. Ditempat biasa aku mengunyah sehelai demi
helai biskuit coklat kesukaan ku. Yaa disinilah. Di taman sisi selatan yang
memang aku menyukainya karena flamboyannya. Tepat di atas ku ini memang
menjulang kokoh pohon flamboyan. Yang setia menjulurkan lengan dahanya untuk
meneduhkan ku dari senyuman mentari. Dan ketika masanya tiba, bunga-bunga
mungil kekuningan miliknya itu sering terlepas dari genggalam tangkainya dan
jatuh menyentuhku, mengucapkan selamat datang padaku. Lebih lagi dengan aroma
tanah yang baru saja diterpa rintikan hujan. Aroma yang sangan mengairahkan.
Disini,
dikursi beton ini memang tempat biasa aku menrestart benakku. Setelah seharian beraktifitas kuluangkan seuntai
waktu untuk sejenak menyunggingkan senyuman lagi. Bahkan pernah aku enggan
untuk beranjak dari singgahsana ku ini. Hingga akhirnya aku dipaksa oleh senja
untuk segera pulang karena mentari memang sudah kembali keperaduanya.
Tapi kali
ini sepesial. Aku tak sendirian. Aku memang minta ditemani untuk melewati senja
di bangku ini lagi. Setelah memang beberapa hari ini bahkan mungki bisa
dikatakan dua minggu ini aku tak dapat menikmatinya. Yaa.. mungkin hanya itu
yang berbeda. Tapi memang kali ini aku tak menyantap biskuit. Dan susu hangat
kesukaanku pun belum dapat aku seruput karna memang masih dibelikan oleh kak
Andi. Berulang kali ku hirup udara dan ku hempaskan lagi. Dan kuhirup kembali
dan ku hempaskan lagi. Seolah kupermainkan udara anugerah Tuhan ini. Dan
sesekali ku ayunkan kakiku dari bangku yang memang cukup tinggi untuk gadis
kecil seukuran ku ini.
Aroma
flamboyan yang tersentil angin mengejutkan penciumanku. Dan mungkin kali ini
dia berkolaborasi dengan melati dan kenanga yang memang aku masih ingat persis
bunga-bunga itu tertanam rapi di sisi kiri bangku beton ini. Namun begitu, lamunanku
tak mau berhenti. Ia terus melaju mengorek memori yang seharusnya tidak untuk
dilembarkan kembali. Menyajikan film-film yang di buat oleh otakku ini dulu
ketika aku melihat pelangi dari bangku ini. Film ketika aku justru berteduh
dibawah naungan hujan ketika melewati karpet hijau rerumputan koridor taman
ini. Atau mungkin film ketika jemariku memainkaan portabel komputerku
menuliskan seulur angan yang acak-acakan bertumpuk-tumpukan di benak. Dan
pastinya saat itu memang aku harus berkutat dengan kaca mata yang bertengger
dihidungku dan secangkir susu yang harus segera aku tengguk sebelum biskuit
coklatku habis. Memang kenangan yang begitu menyejukkan. Akupun senang kembali
memunculkanya lagi dalam benakku.
Hanya satu
yang harus terus aku pengang. Bahwa aku tak boleh menyesali keadaan ku tempo
ini. Aku tak boleh menyalahkan siapa pun atas bentuk cinta Tuhan pada ku saat
ini. Kecelakaan tempo hari memang membawa pergi penglihatan ku. Jelas dokter
benturan yang kuat waktu itu membuat syaraf yang menghubungkan penglihatkan
dengan otakku tak dapat berfungsi lagi. Memang kini aku tak mampu melihat
flamboyan yang berguguran terlepas dari tangkainya lagi. Dan tak mampu melihat
pelangi yang melengkung seolah ingin membawaku dalam dekapnya. Dan tak mampu
lagi tertawa-tawa menikmati lukisan senja ciptaan Tuhan. Tapi memang aku tak
boleh menyesali. Toh aku masih dapat membau aroma flamboyan yang berkolaborasi
dengan kawan-kawannya. Atau mengendus lembut asap tanah basah yang
menggairahkan jiwa. Dan tentunya aku masih mampu bernafas untuk merasakan
semuanya. Yaa semua memang aku anggap sama.
Aku memang
berusaha untuk selalu melengkungkan senyuman. Dan kursi beton ini memang tetap
menjadi singgahsana yang sepesial untuk ku. Dan kali ini dapat aku dengar
dengan jelas melodi indah perpaduan aspal dengan bantalan alas kaki. Dan aku
sangat ingat dengan aroma ini adalah aroma susu colkat hangat. Pastilah dia kak
Andi. Kutunggu kehadiranya dengan tetap memperhatikan alunan alas kaki yang
semakin mendekat. Hingga sapanya mampu menyunggingkan senyumanku.
“sayang, mana tanganmu, susu colkat kesukaanmu udah menanti nih. persis seperti pesananmu tidak tertalu panas dan tidak terlalu manis” ucapnya lirih disampingku
“sayang, mana tanganmu, susu colkat kesukaanmu udah menanti nih. persis seperti pesananmu tidak tertalu panas dan tidak terlalu manis” ucapnya lirih disampingku
“terimakasih
kak, Zara janji deh susu coklatnya ntar aku abisin sampe habis deh engga aku
sisain kak. kan kasian kalo disisain trus kebuang akhirnya”.
Tak lupa seutas
senyuman aku suguhkan untuknya. Untuknya yang dengan tulus memberikan kasihnya.
Menggandeng dan menemaniku walaupun hanya untuk sekedar duduk-duduk di bangku
beton ini. Aku yakin ia pun pasti juga tersenyum ketika melihatku tersenyum.
Satu hal lagi yang wajib untuk aku syukuri. Tuhan memang begitu mengerti akan
kejiwaan ku. Dan terus menghadirkan malaikat-malaikat yang meneduhiku dengan
juluran sayapnya. Setitik senyuman kembali aku sunggingkan. Dan sesekali ku
seruput secangkir susu coklat hangat ini sebelum aromanya memudar. Dan kali ini
dapat aku rasakan uraian rambut yang sedari tadi tertiup oleh angin ini di
benahi oleh sentuhan hangat jemari kak Andi. Aku bersyukur. Sungguh bersyukur
untuk pelukan Tuhan kali ini. Dan setidaknya aku masih mampu membau flamboyan
yang terlepas dari tangkainya. Yaa.. flamboyan yang terlepas dari tangkainya.
Aroma yang akan mengakhiri panjangnya goresan halus penaku kali ini.
Surakarta, 2013
Tidak ada komentar:
Posting Komentar