Jumat, 13 Desember 2013

flamboyan

aku memang hanya sekedar mengagumi flamboyan. dan aku tak tahu harus dengan cara apa aku menyapaikanya. aku memang bodoh. untuk sekedar berkata -aku mencintai mu- pun tak bisa. hanya kuberanikan diri untuk menyapa dengan ekor mata. punggungnya.



flamboyan

Senja ini aku terduduk disini lagi. Ya.. disini. Ditempat biasa aku menyentuhkan jemariku menuju tuts-tuts keyboard portabel komputerku. Ditempat biasa aku menyeruput hangatnya secangkir susu coklat hangat. Ditempat biasa aku mengunyah sehelai demi helai biskuit coklat kesukaan ku. Yaa disinilah. Di taman sisi selatan yang memang aku menyukainya karena flamboyannya. Tepat di atas ku ini memang menjulang kokoh pohon flamboyan. Yang setia menjulurkan lengan dahanya untuk meneduhkan ku dari senyuman mentari. Dan ketika masanya tiba, bunga-bunga mungil kekuningan miliknya itu sering terlepas dari genggalam tangkainya dan jatuh menyentuhku, mengucapkan selamat datang padaku. Lebih lagi dengan aroma tanah yang baru saja diterpa rintikan hujan. Aroma yang sangan mengairahkan.

Disini, dikursi beton ini memang tempat biasa aku menrestart benakku. Setelah seharian beraktifitas kuluangkan seuntai waktu untuk sejenak menyunggingkan senyuman lagi. Bahkan pernah aku enggan untuk beranjak dari singgahsana ku ini. Hingga akhirnya aku dipaksa oleh senja untuk segera pulang karena mentari memang sudah kembali keperaduanya.

Tapi kali ini sepesial. Aku tak sendirian. Aku memang minta ditemani untuk melewati senja di bangku ini lagi. Setelah memang beberapa hari ini bahkan mungki bisa dikatakan dua minggu ini aku tak dapat menikmatinya. Yaa.. mungkin hanya itu yang berbeda. Tapi memang kali ini aku tak menyantap biskuit. Dan susu hangat kesukaanku pun belum dapat aku seruput karna memang masih dibelikan oleh kak Andi. Berulang kali ku hirup udara dan ku hempaskan lagi. Dan kuhirup kembali dan ku hempaskan lagi. Seolah kupermainkan udara anugerah Tuhan ini. Dan sesekali ku ayunkan kakiku dari bangku yang memang cukup tinggi untuk gadis kecil seukuran ku ini.

Aroma flamboyan yang tersentil angin mengejutkan penciumanku. Dan mungkin kali ini dia berkolaborasi dengan melati dan kenanga yang memang aku masih ingat persis bunga-bunga itu tertanam rapi di sisi kiri bangku beton ini. Namun begitu, lamunanku tak mau berhenti. Ia terus melaju mengorek memori yang seharusnya tidak untuk dilembarkan kembali. Menyajikan film-film yang di buat oleh otakku ini dulu ketika aku melihat pelangi dari bangku ini. Film ketika aku justru berteduh dibawah naungan hujan ketika melewati karpet hijau rerumputan koridor taman ini. Atau mungkin film ketika jemariku memainkaan portabel komputerku menuliskan seulur angan yang acak-acakan bertumpuk-tumpukan di benak. Dan pastinya saat itu memang aku harus berkutat dengan kaca mata yang bertengger dihidungku dan secangkir susu yang harus segera aku tengguk sebelum biskuit coklatku habis. Memang kenangan yang begitu menyejukkan. Akupun senang kembali memunculkanya lagi dalam benakku.

Hanya satu yang harus terus aku pengang. Bahwa aku tak boleh menyesali keadaan ku tempo ini. Aku tak boleh menyalahkan siapa pun atas bentuk cinta Tuhan pada ku saat ini. Kecelakaan tempo hari memang membawa pergi penglihatan ku. Jelas dokter benturan yang kuat waktu itu membuat syaraf yang menghubungkan penglihatkan dengan otakku tak dapat berfungsi lagi. Memang kini aku tak mampu melihat flamboyan yang berguguran terlepas dari tangkainya lagi. Dan tak mampu melihat pelangi yang melengkung seolah ingin membawaku dalam dekapnya. Dan tak mampu lagi tertawa-tawa menikmati lukisan senja ciptaan Tuhan. Tapi memang aku tak boleh menyesali. Toh aku masih dapat membau aroma flamboyan yang berkolaborasi dengan kawan-kawannya. Atau mengendus lembut asap tanah basah yang menggairahkan jiwa. Dan tentunya aku masih mampu bernafas untuk merasakan semuanya. Yaa semua memang aku anggap sama.

Aku memang berusaha untuk selalu melengkungkan senyuman. Dan kursi beton ini memang tetap menjadi singgahsana yang sepesial untuk ku. Dan kali ini dapat aku dengar dengan jelas melodi indah perpaduan aspal dengan bantalan alas kaki. Dan aku sangat ingat dengan aroma ini adalah aroma susu colkat hangat. Pastilah dia kak Andi. Kutunggu kehadiranya dengan tetap memperhatikan alunan alas kaki yang semakin mendekat. Hingga sapanya mampu menyunggingkan senyumanku.

sayang, mana tanganmu, susu colkat kesukaanmu udah menanti nih. persis seperti pesananmu tidak tertalu panas dan tidak terlalu manis” ucapnya lirih disampingku

terimakasih kak, Zara janji deh susu coklatnya ntar aku abisin sampe habis deh engga aku sisain kak. kan kasian kalo disisain trus kebuang akhirnya”. 

Tak lupa seutas senyuman aku suguhkan untuknya. Untuknya yang dengan tulus memberikan kasihnya. Menggandeng dan menemaniku walaupun hanya untuk sekedar duduk-duduk di bangku beton ini. Aku yakin ia pun pasti juga tersenyum ketika melihatku tersenyum. Satu hal lagi yang wajib untuk aku syukuri. Tuhan memang begitu mengerti akan kejiwaan ku. Dan terus menghadirkan malaikat-malaikat yang meneduhiku dengan juluran sayapnya. Setitik senyuman kembali aku sunggingkan. Dan sesekali ku seruput secangkir susu coklat hangat ini sebelum aromanya memudar. Dan kali ini dapat aku rasakan uraian rambut yang sedari tadi tertiup oleh angin ini di benahi oleh sentuhan hangat jemari kak Andi. Aku bersyukur. Sungguh bersyukur untuk pelukan Tuhan kali ini. Dan setidaknya aku masih mampu membau flamboyan yang terlepas dari tangkainya. Yaa.. flamboyan yang terlepas dari tangkainya. Aroma yang akan mengakhiri panjangnya goresan halus penaku kali ini.

Surakarta, 2013

Tidak ada komentar:

Posting Komentar