Kurebahkan kepalaku. Penat
ini rasanya seperti mantra yang menggelayuti ragaku. Bayangan yang tepat berada
di pesisir awang-awang ku ini layaknya rumusan alkohol yang salah aku
menakarnya. Penuh dengan percikan larutan kimia yang mungkin ketika tiba saat nya
akan meledak. Satu daging yang biasa orang menyebutnya dengan panggilan hati,
yang masih tersimpan pada tempatnya kini mulai bergemuruh. Pandangan ku hanya
aku fokuskan pada plafon atap kamar yang sedari tadi masih setia
menyembunyikan ku. Mungkin mata ku sebam. Kepalaku juga masih terasa berat
bahkan mungkin melebihi pusingnya lelaki hidung belang yang semalaman
mabuk-mabukan. Masih terbayang jelas sosok yang hati ini jelas masih
berteriak sayang. Kuajak ruh ku untuk kembali membangunkan ragaku. Kujulurkan
kakiku. Kulangkahkan dan kuraih sebuah buku yang menurutku memang sudah lusuh. Kulepaskan kaitan yang menguncinya. Kubuka lembar demi lembar buku itu. Semakin
kucoba membalik halaman buku itu, semakin banyak pula kenangan yang menggelayut
di hadapanku. Memang buku itu tempatku menulis dan tempatnya menulis. Tapi
belum sempat aku menjelajahi halaman lebih jauh cepat-cepat kututup kembali.
Tak ku sangka air mata ini menetes lagi.
“percayalah cantik, Tuhan akan memberimu yang terbaik” hmm
gumam ku lirih menghibur diriku. Sedikit senyum menyeringai dibibirku. Seperti
usapan lembut yang dengan nyata mengelus pipiku. Ponselku berdering. Satu pesan
masuk darinya. Kubiarkan pesan itu ada tanpa aku membukanya.
“ahh masa lalu. Aku tak ingin mengussikmu kembali mas”
“hmm ayolah, semangat Mumu kan hari ini mau ke toko buku
terus beli eskrim sama ccoklat masa iya sih sedih sedihan terus”
Tak menunggu lama.
Kulangkahkan kaki ku keluar kamar bersemangat. Kusapa ibu yang bersenandung ria sambil meramu adonan kue kue kecil kesukaan ku. Mungkin beliau bingung denganku. Baru saja masuk kamar banting pintu, tau tau keluar senyam senyum sambil bergumam ria sendiri. Aku memang sering dibekali ibu dengan kue. Ibu memang begitu, selalu saja membekaliku dengan makanan kecil yang sengaja ia bungkus rapi dikotak makan ku. Menyiapkan ini itu. Bertanya kepadaku mau bawa bekal nasi dengan lauk apa. Ntar mau dijemput apa enggak. Atau kadang mengingatkan apakah ada barang ku yang terlupa. Bahkan kadang ketika deadline ulangan mampir ke aku beliau menyuapiku yang sedang duduk manis baca buku di meja belajar. Begitulah aku selalu manja.
Kulangkahkan kaki ku keluar kamar bersemangat. Kusapa ibu yang bersenandung ria sambil meramu adonan kue kue kecil kesukaan ku. Mungkin beliau bingung denganku. Baru saja masuk kamar banting pintu, tau tau keluar senyam senyum sambil bergumam ria sendiri. Aku memang sering dibekali ibu dengan kue. Ibu memang begitu, selalu saja membekaliku dengan makanan kecil yang sengaja ia bungkus rapi dikotak makan ku. Menyiapkan ini itu. Bertanya kepadaku mau bawa bekal nasi dengan lauk apa. Ntar mau dijemput apa enggak. Atau kadang mengingatkan apakah ada barang ku yang terlupa. Bahkan kadang ketika deadline ulangan mampir ke aku beliau menyuapiku yang sedang duduk manis baca buku di meja belajar. Begitulah aku selalu manja.
Kali ini kududukkan tubuhku di sofa empuk ruang tamu.
Beberapa kali kutinggikan kepala ku untuk mengetahui apakah ada tamu masuk ke
halaman atau tidak. Hari ini memang aku sedang ada janji. Ya mungkin bisa
dibilang kencan lah. Tapi ke toko buku. Sebenarnya aku berharap aku bisa ke
toko buku kembali, tapi bukan dengan nya. Dengan yang dulu. Ya yang dulu. Aku
bingung untuk menentukan. Ahh biarlah. Tuhan pasti punya cara untuk
memberitahukan.
Dua menit belum datang. Lima menit belum datang juga. Emm
lima belas menit kemudian aku ternyata tertidur menunggunya yang tak kunjung
datang. Tiba-tiba pipiku terasa hangat. Seperti ada sesuatu yang melekat. Kucoba
membuka kelopak mataku. Ternyata kak Andi duduk menungguiku di bibir sofa.
“kamu sakit ??” itu kata pertama yang kudengar dari
mulutnya.
“enggak kok kak” kujawab sambil tersenyum.
“itu matanya merah, kamu habis nangis ?”
Mataku memang terlihat memerah walaupun kaca mata telah
bertengger indah di depan mataku. Aku hanya terdiam mendengar pertanyaanya.
Tanya dengan raut yang tulus. Tak ada yang disembunyikan. Bagaimana aku akan
menyianyiakan orang yang begitu menyayangiku. Yang mau menerima apapun keadaanku.
Apapun kekuranaganku. Bahkan terlampau sering aku melukai hatinya demi
memikirkan masa kelabu lalu ku itu.
“enggak kak, yuk berangkat aku mau es kri sama coklat”
rengekku mengalihkan pembicaraan.
“ayuk bangun dong” jawabnya sambil tersenyum
“ini jilbabnya udah bener apa belum kak, tadi kan aku pake tidur” jawabku manja sambil
memanyunkan bibir ku
“udah cantik kok” gombalnya sambil tersenyum menyeringai
menampakkan deretan gigi putihnya.
~~~
Kami segera bergegas untuk berangkat. Setelah berpamitan
dengan ibu, gas segera berpacu dengan waktu menuju kedai es krim di samping
toko buku. Sedikit canda mengisi ruang waktu kaku diantara kami. Aku memang
mengenalnya sudah sejak lama, namun baru-baru ini aku dekat denganya. Tapi aku
bersyukur adanya dia menghapuskan rasa gundah akan masa laluku. Masa yang harus
ku tinggalkan karena kekecewaanku. Aku harus pergi melepasnya yang sebenarnya
aku masih menyayanginya. Entah itu disebut dengan kehadiran orang ketiga atau
memang dia menginginkan hubungan dengan wanita lain tanpa pengetahuanku. Aku
memang bodoh. Mudahnya aku percaya. Memang tidak dalam waktu yang muda aku
menjalani dengan nya. Hampir tiga puluh enam bulan aku memperjuangkanya. Selama
aku membiarkan benakku berlayar sesukanya, ternyata ada yang memperhatikan ku.
Lagi lagi dengan senyuman tulus yang tak terangkum dalam kamus manapun. Aku
harus bersyukur dengan anugrah Tuhan kali ini.
“kakak apa sih dari tadi ngeliatin aku terus emm ..” protes ku
“sapa suruh melamun”
“aku kan ngelamunin kakak hhe” ujarku membuka percakapan
“belajar nggombal dari mana kamu. Masi kecil aja gombalin kakak”
“ihh ayuk buruan kak ketoko bukunya. Keburu abis entar kak”
“emang tukang siomay apa daganganya laku sehari doang. Entar kalo bukunya abis kan kita bisa buat buku sendiri hhe” guraunya menggodaku.
“ihh kakak ngombal deh jelegg :p”
Diluar ternyata rintik hujan meneduhi kami. Aku menunggu kak Andi yang bergegas melangkah ke mushola. Terlalu lama mengobrol hingga waktu ashar sudah harus dipenuhi. Sambil duduk dibangku sudut kedai. Ku keluarkan selembar kertas origami berwarna biru tua dari tas ranselku. Dengan semangat pula kuraih pulpen warna ungu untuk menyempurnakan kertas yang ada di depanku.
“terimakasih Tuhan untuk anugerah ini. Ternyata Kau berikan pengganti yang lebih baik untukku. Yang dengan senyuman tulusnya aku telah mengerti untuk dialah saat ini hadirku. Bahkan aku telah mampu melewati jembatan pemahaman, bahwa masa lalu kelabu itu pembelajaran. Akupun harus bersyukur pula akan kehadiranya yang lalu. Masaku kini bukan untuknya lagi. move on. aku akan berusaha untuk itu”. Kugerakkan tanganku untuk melipat dan melipat hingga seekor angsa hidup dari secarik kertas ku. Kulihat dari koridor kedai, tampak dari kejauhan sosok tegap yang kini mampu menciptakan kembali pelangi senyuman di bibirku. Sambil lalu kuletakkan angsa ku di atas genangan kecil air dan dibawah tetesan rintikan hujan di sudut atap kadai. Entah tinta yang ada di dalamnya akan pudar atau kah tidak. Aku akan tersenyum. Untuknya. Untuk dia yang mau dengan tulus menyumbangkan waktunya untukku. Mengingatkan sholatku. Menghiburku yang kadang justru kubalas dengan kata kasar yang tak seharusnya aku ucapkan.
Kini aku sadar. Tak akan kusia siakan. Pelangi seusai hujan ini mungkin yang akan menjadi saksi. Dan tetesan air hujan dan genangan air yang tampak di pinggir-pinggir jalanan. Aku berterimakasih. Sangat berterimakasih. Kini kututup langkah kecil sore hari ini dengan senyuman. Kusambut sosok lelaki yang kini telah berjalan semakin mendekat. Aku akan berusaha untuk menyamai langkahnya. Menyamai rasanya. Dan rimbunnya bunga flamboyan di batas tapal jalanan ini menjadi saksi janjiku pada diriku sendiri. Untuk nya dan kita. Ya kita aku dan dia lebih tepatnya. Tak akan ku ulangi kesalahan ku lagi. Kesalahan menyianyiakan mu dan semoga masih ada waktu untuk kita alebih lama lagi.
Sore yang indah,
sengaja ku gerakkan tanganku untuk menekan tombol hp dengan mesra,
untuk ku ungkapkan kata-kata terindah untuk mu yang terindah,
semoga dapat meluluhkan segala keraguan,
semoga dapat menghancurkan kerasnya batu prasangka,
aku takkan melupakan mu,
aku takkan meninggalkan mu,
takkan menduakan cintamu,
aku tak ingin mengingkar janji,
tak ingin menjadi duri,
tak ingin menjadi api cinta yang membara,
rebahlah keu dipeluku,
lepaskan resahmu,
bebaskan jiwamu,
dari prasangka,
badi prasangka burukmu dari kerasnya batu curiga. .
khusus untuk de
maaf kalau salah
Andi ..
sengaja ku gerakkan tanganku untuk menekan tombol hp dengan mesra,
untuk ku ungkapkan kata-kata terindah untuk mu yang terindah,
semoga dapat meluluhkan segala keraguan,
semoga dapat menghancurkan kerasnya batu prasangka,
aku takkan melupakan mu,
aku takkan meninggalkan mu,
takkan menduakan cintamu,
aku tak ingin mengingkar janji,
tak ingin menjadi duri,
tak ingin menjadi api cinta yang membara,
rebahlah keu dipeluku,
lepaskan resahmu,
bebaskan jiwamu,
dari prasangka,
badi prasangka burukmu dari kerasnya batu curiga. .
khusus untuk de
maaf kalau salah
Andi ..
Panggungrejo Jebres Surakarta
��☺
BalasHapus