Kupercepat langkah kaki ku meski ngilu masih saja setia
menemaniku. Petang ini aku memang harus maraton dengan waktu. Tak mungkin
memang ku biarkan dagangan ku dijamah air hujan. Mau tak mau aku harus
tergopoh-gopoh berlarian. Dengan gerobak manisan yang kupikul di pundak,
kujelikan pandangan untuk mengkap ruang teduhnya hujan. Hanya sisa-sisa lapak
yang aku temukan. Di sudut panjangnya jalanan. Dengan remang sorot lampu yang
berlarian. Kuistrahatkan tengkukku. Yang sedari tadi kubiarkan mengeluh
kesakitan. Bahkan tengkuk, mungkin jika kaki ku tertembak senapan pamong praja
pun aku harus tetap berjualan.
“aku ridu ayah” hanya sebersit kata itu yang mampu aku
ucapkan. Sosok yang belum sempat aku mengenal lebih jauh pribadinya. Sosok yang
dulu selalu berkata “ini untuk masa depanmu dan ibu dan teman-teman mu nak”.
Aku rindu yah. Apa ayah melihatku setiap pulang sekolah aku menjajakan manisan yah. Apa ayah melihat ibu yang mau bekerja apa saja untuk biaya sekolahku. Aku hanaya ingin sekali saja menjamah peluk mu lagi. Ingin sekali menikmati tempe goreng buatan ibu di dipan sudut rumah lagi.
“Apa aku boleh menangis untuk ayah?”
Ayah.. kini aku biasa dicaci maki. Aku biasa diacuhkan sendiri. Aku biasa ditemani rasa sakit yang tak tega aku bercerita pada ibunda. Apa ayah merindukan kami.
Apa ayah akan kecewa ?
Setiap pagi aku masih berangkat sekolah ayah. Hanya saja tak hanya tas yang aku bawa. Kusempatkan menyimpan beberapa manisan yang memang sengaja ibu sediakan. Tak pernah berubah rasanya. Masih tetap enak seperti yang dulu biasa kita nikmati. Aku tak malu. Toh memang aku sudah biasa dicaci. Seperti pesan ayah “syukuri setiap nikmat yang Tuhan berikan”
Kaki ini memang masih diijinkan berjalan ayah. Dan mata masih saja tersenyum. Dan kali ini aku berteduh di bawah hujan. “ayah aku merindukanmu, aku ingin banyak bercumbu lagi dengan mu”
Aku rindu yah. Apa ayah melihatku setiap pulang sekolah aku menjajakan manisan yah. Apa ayah melihat ibu yang mau bekerja apa saja untuk biaya sekolahku. Aku hanaya ingin sekali saja menjamah peluk mu lagi. Ingin sekali menikmati tempe goreng buatan ibu di dipan sudut rumah lagi.
“Apa aku boleh menangis untuk ayah?”
Ayah.. kini aku biasa dicaci maki. Aku biasa diacuhkan sendiri. Aku biasa ditemani rasa sakit yang tak tega aku bercerita pada ibunda. Apa ayah merindukan kami.
Apa ayah akan kecewa ?
Setiap pagi aku masih berangkat sekolah ayah. Hanya saja tak hanya tas yang aku bawa. Kusempatkan menyimpan beberapa manisan yang memang sengaja ibu sediakan. Tak pernah berubah rasanya. Masih tetap enak seperti yang dulu biasa kita nikmati. Aku tak malu. Toh memang aku sudah biasa dicaci. Seperti pesan ayah “syukuri setiap nikmat yang Tuhan berikan”
Kaki ini memang masih diijinkan berjalan ayah. Dan mata masih saja tersenyum. Dan kali ini aku berteduh di bawah hujan. “ayah aku merindukanmu, aku ingin banyak bercumbu lagi dengan mu”
Air mata memeng tak ada harganya. Apalagi memeng hanya untuk
menangisi seseorang yang telah tiada. Sesekali memang aku merasa rindu. Sosok
ayah yang dulu menjadi imam sholatku. Yang selalu kubanggakan. Dimata ku dia
memang lebih dari sekedar kata pahlawan.
Kali ini kupandang gerobak manisanku. Kuhirup segarnya aroma
hujan. kuedarkan pandangan mendeteksi masih adakah air yang berjatuhan. Aku
tahu Tuhan pasti punya cara tresendiri. Menyampaikan rindu ku pada ayah. Aku
harus segera pulang. Tak ingin lagi ibu harus menungguiku di dipan depan rumah
hingga ketiduran. Hanya untuk menjemput putranya yang berjalan membawa gerobak
manisan.
“Ayah aku merindukan mu. Muncullah dalam mimpiku. Aku akan
segera pulang menemuni ibu. Hujan yang sedari tadi meneduhiku telah lenyap
dikalahkan waktu. Esok aku harus sekolah ayah. Dan malam ini aku akan belajar.
Dengan sarung dan lampu neon pemberian ayah. Kado ulang tahunku terakhir dari
ayah.”
“Ayah tenang saja. Baju kebanggaan ayah masih kusimpan untuk
kujaga. Foto ayah juga kumandikan setiap pagi. Kau boleh hadir dimimpi ku
dengan seragam itu ayah. Doa ku selalu untuk ayah.”
Hujan sudah reda. Waktunya kulangkahkan kembali kekiku darimana
aku bermula. Dari gubuk sudut kota yang jauh dari cahaya. Ku usap sisa air
mataku. Tak ingin ibu tahu. Kembali kuletakkan gerobakku. Di pundak sebelah
kanan dari bahuku. Tak kupedulikan teriakan ngilu. Dan esok hari lembaran ini
harus aku lalui lagi. Sepulang sekolah menjajakan manisan buatan ibu. Rutinitas
yang tak boleh aku merasa jemu.
Segera kulangkahkan kakiku. Sampai dirumah aku ingin
memandang lama gambar ayah. Ingin kuhirup aromanya yang kuharap masih tersisa
di baju-baju kebangganya. Memang katanya ayah dulu berperang. Dan katanya
diberi nama veteran. Dulu sebelum aku lahir negeri ini pernah dijajah, ungkap
ayah. Namun dijajah pun apa aku tak tahu artinya. Setiap pagi hanya kupandang
gambar ayah dengan bambu yang iya genggam tepat di dadanya. Mungkin seperti
itulah veteran. Ibu pun tak mau menjelaskan. Ahh sudahlah veteran atau bukan
toh aku juga akan tetap menjajakan manisan. Sandang itu juga tak akan mengubah
jalan kaki kami. Langkahku memang harus segera ku ganti dengan lari. Ibu pasti sudah
menungguiku. Menunggu untuk menjemputku. Dan menunggu untuk rupiah. Rupiah yang
tak sempat ayah wariskan pada kami.
Surakarta 2013
Untuk para pahlawanku yang saat ini diselundupkan waktu.
Trimakasih untukmu kurasa memeng hanya seperti ungkapan dangkal. Tapi,
kuteruskan juangmu adalah tekat kami yang kutahu kau pasti telah mengetahui.
Merah putih ini yang akan menjadi atap kebanggaan kami. Kami dan kau dan aku.
Untuk juangmu, terimakasih. Dan untuk segalanya, terimakasih.
12345 kurasa hanya ada 5 typo. Cerita yang sungguh menarik dan cukup inspiratif. Keep Writing ya ^^
BalasHapusmakasih koreksi nya mbak
BalasHapusmaklum masi belajar:)