Selasa, 24 Desember 2013

Kecewa


Kecewa

Kaki ku masih kusilakan. Masih saja memandang barisan aksara yang berjejer rapi menjadi wacana. Punggung ku pun masih kusenderkan di tembok sudut koridor. Di dekat bak sampah di bawah lampu neon yang sedikit menerangi suramnya koridor ini. Dan yang jelas  masih kunikmati siomay hangat sembari mendengarkan nyanyian hujan yang sedari tadi ajeg dijatuhkan Tuhan. Entah memang. Entah kenapa beberapa hari ini orang-orang yang dulu membuatku merasa bangga karena ada kini justru membuatku kecewa. Kecewa dengan statement, lontaran, pesimis, sikap haah sifat khas remaja, yaa seperti menyodorkan harapan di awal pertemuan saja, dan selanjutnya ya seperti ini, acuh, tak peduli atau bahkan mungkin benci. Dan mungkin memenag hanya mata yang sayu dan beratnya hembusan nafas yang tahu. Hhuhfhh.

Sesekali ku obrak-abrik halaman bukuku. Mencari ruang-ruang yang pas untuk kubaca sambil berharap dapat mengembalikan mood-ku. Aku memang sempat bersyukur atau mungkin lebih tepatnya bangga pernah mengenal sosoknya. Dengan sholihnya, seperti tak ada alasan lagi untuk para wanita menghindar dari hipnotisnya. Memang dulu seperti aku diingatkan. Aku yang awul-awulan dan brutal sedikit bisa berkenalan dengan Tuhan. Namun pada kenyataanya itu memang hanya dulu, memang hanya dua atau tiga kali bertemu saja. Dan selanjutnya yaa seperti ini, merasa di acuhkan atau memang tak dianggap. Biasalah pria, mungkin lebih mudah berjalan, menari, dan berlari dari satu ruh wanita ke wanita lainya.

Dan dia yang kedua, dengan multitalent yang dimilikinya. Pun sama. Apasih sandang yang tak melekat di pelipisnya, intelek. kritis. aktiv. Bahkan semua seperti milikinya. Seperti hanya dengan kedipan mata pun ia mampu menciptakan hal-hal yang kuanggap luar biasa untuk seukuranku. Tapi ya hanya untuk beberapa masa saja memang. Dan berakhir sama. Ya sama. Berlalu dengan sendirinya. Merasa seperti terlalu bodoh dan dengan mudah nya di ombang-ambingkan perasaan sendiri. Walaupun memang dia sempat mengecas semangatku untuk beberapa waktu.

Dan dia dan dia dan dia dan dia yang lain pun sama. Ahh.. mulai bosan dengan zat yang di beri nama kecewa. Bahkan pria, teman wanita ku pun sama. Berjalan menuju angan dan keegoisanya masing-masing. Dan mungkin tanpa sengaja mulai menampakkan keorisinilan pribadinya setelah sekian masa bersama. Mungkin memang teori S. Takdir Alisjahbana mulai menjelma menjadi nyata. Teori yang pernah menjadi Polemik pada masanya “materialisme, intelektualisme, egoisme, dan individualisme”. Yaa mungkin seperti itulah lebih tepatnya. Walau aku tak tau apa motif perbuatan mereka hingga menghasilkan kata kecewa. Dan mungkin untukku kali ini sulit untuk di cas kembali. Atau mungkin hanya sekedar mengembalikan image nya di mataku pun sulit baginya. Walaupun memang tak boleh melihat seseorang dari kaca mata kekecewaan. Yang sama saja aku egois pula. Dan apa bedanya aku dengan mereka? Akan tak ada.

Hingga hujan reda pun aku masih bersila. Hanya saja siomay yang kubiarkan saja kini telah hilang kehangatanya. Kubujuk ruh ku untuk kembali lagi berada di dunia nyata. Meski sedikit banyak lega, tetap saja rasa itu ada. Iya rasa itu. Apalagi kalau bukan kecewa. Mungkin kecewa ada karna aku pun juga mengecewakan mereka. Dan lebih bodohnya lagi karna justru aku menyalahkan mereka. Dan entah kenapa aku tak ingin disalahkan atau berada di posisi yang mengecewakan. Dan akan ku usahakan untuk pura-pura tak tahu mengenai hal ini.

Kurapatkan kembali bukuku. Kuhembuskan lagi nafas beratku. Kepala ini seperti pohon mangga yang terlalu banyak buah yang menggelayutinya. Berat. Hanya mampu kusandarkan dan lagi-lagi kusandarkan di tembok sudut koridor sisi tempat sampah. Kecewa. Memang kata yang hanya terdiri dari lima fonem yang berbeda ini, kini telah mampu membujuk ruh ku untuk menyusupi kata itu sendiri. Yaa.. mungkin memang aku harus berjalan di bawah sejuknya bekas hujan lagi. Dan hanya untuk sekedar mengingatakan bahwa kau pun juga mengecewakan.

Dan yaaa.. memang atau mungkin aku hanya terlalu menikmati saja perjalananku. Entah lah yang pasti memang hingga saat ini aku sendiri pun harus menyembunyikan kekecewaanku. Dan aku menikmati kok. Toh hujan masih terus saja menemani. Yang jelas senyuman yang katanya ibarat mantra konyol penuh arti ini lah yang berhasil mengalahkan rumus kekecewaan. Yaa.. senyuman. S e n y u m a n.

Karangganyar di ujung usia 2013


2 komentar:

  1. " Biasalah pria, mungkin lebih
    mudah berjalan, menari, dan
    berlari dari satu ruh wanita ke
    wanita lainya." kalimat yg paling aku suka ... hehehe

    di tunggu karya yg lainnya ....!!!^^

    BalasHapus
  2. aku tunggu karya embak juga ya :)

    BalasHapus