Kecewa
Kaki ku masih kusilakan. Masih saja memandang barisan aksara
yang berjejer rapi menjadi wacana. Punggung ku pun masih kusenderkan di tembok
sudut koridor. Di dekat bak sampah di bawah lampu neon yang sedikit menerangi
suramnya koridor ini. Dan yang jelas masih
kunikmati siomay hangat sembari mendengarkan nyanyian hujan yang sedari tadi
ajeg dijatuhkan Tuhan. Entah memang. Entah kenapa beberapa hari ini orang-orang
yang dulu membuatku merasa bangga karena ada kini justru membuatku kecewa.
Kecewa dengan statement, lontaran, pesimis, sikap haah sifat khas remaja, yaa
seperti menyodorkan harapan di awal pertemuan saja, dan selanjutnya ya seperti
ini, acuh, tak peduli atau bahkan mungkin benci. Dan mungkin memenag hanya mata
yang sayu dan beratnya hembusan nafas yang tahu. Hhuhfhh.
Sesekali ku obrak-abrik halaman bukuku. Mencari ruang-ruang
yang pas untuk kubaca sambil berharap dapat mengembalikan mood-ku. Aku memang sempat bersyukur atau mungkin lebih tepatnya
bangga pernah mengenal sosoknya. Dengan sholihnya, seperti tak ada alasan lagi
untuk para wanita menghindar dari hipnotisnya. Memang dulu seperti aku
diingatkan. Aku yang awul-awulan dan brutal sedikit bisa berkenalan dengan
Tuhan. Namun pada kenyataanya itu memang hanya dulu, memang hanya dua atau tiga
kali bertemu saja. Dan selanjutnya yaa seperti ini, merasa di acuhkan atau
memang tak dianggap. Biasalah pria, mungkin lebih mudah berjalan, menari, dan
berlari dari satu ruh wanita ke wanita lainya.
Dan dia yang kedua, dengan multitalent yang dimilikinya. Pun
sama. Apasih sandang yang tak melekat di pelipisnya, intelek. kritis. aktiv.
Bahkan semua seperti milikinya. Seperti hanya dengan kedipan mata pun ia mampu
menciptakan hal-hal yang kuanggap luar biasa untuk seukuranku. Tapi ya hanya
untuk beberapa masa saja memang. Dan berakhir sama. Ya sama. Berlalu dengan
sendirinya. Merasa seperti terlalu bodoh dan dengan mudah nya di
ombang-ambingkan perasaan sendiri. Walaupun memang dia sempat mengecas
semangatku untuk beberapa waktu.
Dan dia dan dia dan dia dan dia yang lain pun sama. Ahh..
mulai bosan dengan zat yang di beri nama kecewa. Bahkan pria, teman wanita ku
pun sama. Berjalan menuju angan dan keegoisanya masing-masing. Dan mungkin
tanpa sengaja mulai menampakkan keorisinilan pribadinya setelah sekian masa
bersama. Mungkin memang teori S. Takdir Alisjahbana mulai menjelma menjadi
nyata. Teori yang pernah menjadi Polemik pada
masanya “materialisme, intelektualisme, egoisme, dan individualisme”. Yaa
mungkin seperti itulah lebih tepatnya. Walau aku tak tau apa motif perbuatan
mereka hingga menghasilkan kata kecewa. Dan mungkin untukku kali ini sulit
untuk di cas kembali. Atau mungkin hanya sekedar mengembalikan image nya di
mataku pun sulit baginya. Walaupun memang tak boleh melihat seseorang dari kaca
mata kekecewaan. Yang sama saja aku egois pula. Dan apa bedanya aku dengan
mereka? Akan tak ada.
Hingga hujan reda pun aku masih bersila. Hanya saja siomay
yang kubiarkan saja kini telah hilang kehangatanya. Kubujuk ruh ku untuk
kembali lagi berada di dunia nyata. Meski sedikit banyak lega, tetap saja rasa
itu ada. Iya rasa itu. Apalagi kalau bukan kecewa. Mungkin kecewa ada karna aku
pun juga mengecewakan mereka. Dan lebih bodohnya lagi karna justru aku
menyalahkan mereka. Dan entah kenapa aku tak ingin disalahkan atau berada di
posisi yang mengecewakan. Dan akan ku usahakan untuk pura-pura tak tahu
mengenai hal ini.
Kurapatkan kembali bukuku. Kuhembuskan lagi nafas beratku.
Kepala ini seperti pohon mangga yang terlalu banyak buah yang menggelayutinya.
Berat. Hanya mampu kusandarkan dan lagi-lagi kusandarkan di tembok sudut
koridor sisi tempat sampah. Kecewa. Memang kata yang hanya terdiri dari lima
fonem yang berbeda ini, kini telah mampu membujuk ruh ku untuk menyusupi kata
itu sendiri. Yaa.. mungkin memang aku harus berjalan di bawah sejuknya bekas
hujan lagi. Dan hanya untuk sekedar mengingatakan bahwa kau pun juga
mengecewakan.
Dan yaaa.. memang atau mungkin aku hanya terlalu menikmati
saja perjalananku. Entah lah yang pasti memang hingga saat ini aku sendiri pun
harus menyembunyikan kekecewaanku. Dan aku menikmati kok. Toh hujan masih terus
saja menemani. Yang jelas senyuman yang katanya ibarat mantra konyol penuh arti
ini lah yang berhasil mengalahkan rumus kekecewaan. Yaa.. senyuman. S e n y u m a n.
Karangganyar di ujung usia 2013
" Biasalah pria, mungkin lebih
BalasHapusmudah berjalan, menari, dan
berlari dari satu ruh wanita ke
wanita lainya." kalimat yg paling aku suka ... hehehe
di tunggu karya yg lainnya ....!!!^^
aku tunggu karya embak juga ya :)
BalasHapus